Ada kesalahan di dalam gadget ini

Rabu, 17 November 2010

In Memoriam Ancillo Dominic

This story was sent via blackberry broadcast from my best friend. Usually, I am not interested in the internet link .. but my friend had advised, "it read really good story"

As soon as I read, was indeed very good. a mother who fought bravely, a loyal husband, the obstetrician who is kind and first of all it is the fear of God.

Perhaps because of that, they support each other and reinforce each other so that no abortion ... although if I were faced with a situation like that, I also can not be as strong and as strong as this family.

and surrender to God, is everything ... because He made everything beautiful in its time.

Hopefully a lot of families get a good lesson from this story


Malaikat kecil yg menanti orang tuanya di pintu surga.

Lahir dan meninggal : 17 April 2008 jam 14:30 di RS Family Pluit

Misa : 18 April 2008 jam 11:00 di Rd Atmajaya by Rm John Lefteuw Msc

Kremasi : 18 April 2008, 13.00 di Nirvana

Cerita ini ditulis untuk :
1) Orang tua yang ingin menggugurkan bayinya karena cacat
2) Vincent (6th) dan Francis (4th) yang belum mengerti kenapa adiknya dipanggil TUhan begitu cepat.
3) Jc, suami yang penuh cinta menemani dalam suka dan duka
4) dr Tjien Ronny , SpOG with many thanks

Bayi yang dinantikan

Setelah Vincent berumur 5,5 tahun dan Francis berumur 3,5 tahun, saya merindukan seorang baby lagi. Perlu waktu setahun sampai akhirnya Jc setuju dengan keputusan saya untuk hamil lagi. Dia selalu menunda memberikan jawaban, alasannya menunggu tahun tikus, biar shionya sama seperti dia.

Sebenarnya, ketakutannya adalah saat melahirkan Francis, saya sempat pendarahan hingga tak sadarkan diri dan perlu waktu dua bulan lebih untuk pulih. Saat itu tidak ada satu dokterpun baik dokter pengganti melahirkan maupun dokter merawat yang menjelaskan penyebabnya. Jc meminta saya untuk memberikan alasan yang meyakinkannya kenapa harus punya anak tiga, kenapa dua anak tidak cukup.

Setahun saya mencari jawabannya, tapi tidak ketemu, mungkin karena saya dan Jc sama-sama anak ketiga. Alasan lain, dua anak yang lucu dan nakal, kalau tambah satu lagi rasanya tidak masalah. Membesarkan dua anak atau tiga anak sama saja. Akhirnya Jc menyerah karena saya begitu menginginkan seorang baby.

Kami pun pergi ke Dr. Yani Toehgiono, dokter langganan keluarga kami, untuk cek pra-kehamilan. Sebelumnya saya sudah minum asam folat selama setahun untuk mencegah bayi DS. Setelah cek darah dan bersih dari segala virus TORCH, kami meminta dokter untuk sekalian program baby girl. Sebenarnya saya lebih suka baby boy karena sudah terbiasa, tapi sekeliling saya ribut untuk satu lagi harus girl.

Ternyata untuk baby girl harus melewati beberapa kali pemeriksaan dalam untuk memastikan kematangan telur dan saat yg tepat. Kami tidak mau karena kalau terlalu banyak aturan nanti malah susah hamil. Bulan pertama gagal karena tidak ada telur yang bagus, banyak telur tapi kecil-kecil. Dokter menyarankan untuk skip telur bulan ini. “Nggak buru-buru, kan ? Kita coba lagi bulan depan.”

Dokter meresepkan Provula agar bertelur kemudian dokter menjadwalkan kapan harus kontrol lagi untuk melihat kematangan telur disamping itu kami diminta untuk mengisi grafik harian suhu tubuh.

5 s/d 10 minggu

Kami tidak balik ke dokter sampai bulan depannya test-pack positif. Saya sangat gembira karena ini merupakan hadiah ulang tahun terindah untuk saya.

Ketika kami kontrol, dokter langsung bertanya, “kemarin ‘bikin’nya pakai cuka nggak?”

“Nggak,” jawab saya heran.

“Kemarin saya jadwalin datang hari ke sepuluh, kenapa nggak datang?” tanyanya lagi.

Saya cuma senyum, takut dokter marah kalau saya memberi jawaban malas.

“Kalau lihat dari grafik, kemungkinan besar udah hamil,” kata dokter sambil senyum-senyum. “Cowok lagi nih, bikinnya pas hari subur sih.”

“Apa aja deh, Dok. Yang penting sehat. Bisa hamil aja udah syukur.”

Ketika di USG sudah terlihat satu bintik hitam, tapi kantong kehamilannya belum kelihatan.

“Dok, kira-kira bisa kembar nggak? Kalau kembar, repot juga,” kata saya.

“Belum kelihatan,” jawab dokter. “Kembar juga apa-apa, biar satu orang jaga satu, adil.” Dokter tertawa.

Dokter lalu menasehati untuk hati-hati menjaga baby. Dokter belum meresepkan obat penguat, hanya asam folat.

Untuk memastikan kehamilan, kami diminta kembali ke dokter seminggu kemudian. Ketika berumur 6 minggu, baby sudah terlihat lebih besar di monitor tapi belum terdengar suara jantungnya. Umur 8 minggu, jantung baby sudah terdengar seperti baling-baling pesawat, di monitor sudah terlihat detak yang stabil. Umur 10 minggu, baby sudah kelihatan bergerak-gerak, tangan dan kaki sudah terlihat, masih berbentuk kecil, ukurannya masih 2.5 cm.

Lega rasanya ketika dipastikan hamil, walaupun harus melewati mual di pagi dan sore hari, di luar jam kantor. Benar-benar anak yang mengerti orang tuanya.

12 Minggu.

Kami memutuskan untuk pindah ke Dr. Tjien Ronny. Kebetulan Rs. Family hanya lima menit dari rumah dan dokternya terkenal bagus. Julukannya di kantor ‘dokter sejuta umat’. Sebagian besar teman di kantor konsultasi dengan dia dan semuanya bilang oke banget.

Sebelum bertemu dokter, di luar suster mengisi catatan medik dan data-data kehamilan sebelumnya, sempat berpesan kalau kontrol dengan dokter ini musti sabar, soalnya dokter periksanya lama dan teliti. Kesan pada pertemuaan pertama, dokternya sangat simpatik, muda, ganteng, mau mendengarkan, tidak buru-buru dan vitaminnya tidak aneh-aneh.

Saat itu dokter mengecek tengkuk leher baby untuk memastikan tidak ada penebalan cairan, semuanya bagus, tidak DS. Dokter dengan teliti memperlihatkan tangan dan kaki baby yang semuanya sudah proporsional. Saya senang sekali, setelah menunggu beberapa minggu, sekarang bisa melihat cukup lama baby yang mengagumkan di monitor. Tangannya seakan melambai-lambai dan kaki-kaki kecilnya belajar menendang. Panjangnya sudah 6 cm. Dokter juga sangat sabar menjawab pertanyaan kami.

Saking kinclongnya dokter, Jc berkata ke saya, “pasti deh si dokter minum vitamin yang jutaan, kalau nggak gimana bisa segar gitu.”

Jc langsung setuju untuk seterusnya pakai Dr Ronny walaupun hari Sabtu harus menaruh buku dari jam 6 pagi dan mengantri cukup lama, toh cuma sebulan sekali.

Saya sempat bertanya ke suster di luar, hari apa yang pasiennya lebih sepi. Kata suster, tiap hari ramai sampai tengah malem. Lalu saya diajarkan untuk menaruh buku dulu, tensi dan telpon ke extention untuk menanyakan nomernya sudah dekat belum. Suster menambahkan, dokter apa-apa sendiri, jahit caesar pun dilakukan sendiri, tidak pakai asisten. Saat teman saya melahirkan, dia pernah menghitung, dari 35 baby yang lahir, 15 diantaranya lahir di tangan dokter. Dokter punya begitu banyak waktu dan perhatian untuk pasiennya, apa masih punya waktu untuk keluarganya. Entahlah.

17 Minggu.

Dokter riang sekali pagi itu, menyalami kami lalu bernyanyi-nyanyi menuju alat USG. Kemudian mulai USG dengan serius dan menerangkan bagian-bagian tubuh baby di monitor. Kali ini dokter periksa lama sekali dan sesaat dokter terdiam. Akhirnya dengan suara berat dokter berkata, “lni keliatannya…… ada yang nggak bagus, Yenny….. Ini kepalanya, … ada kelainan. Tidak ada batok kepalanya.… Saya anjurkan untuk biarkan dia hidup, Yenny. Ini sudah pasti cacat.”

“Kok bisa?” tanya saya. Kata-kata dokter bagaikan petir di siang bolong.

“Bayi lu nggak ada tempurung dan otaknya. Istilahnya Anencephaly atau anencephalus. Lu ada minum asam folat nggak?”

“Ada, malah dari setahun sebelum hamil.”

“Sampai sekarang, memang diduga karena kekurangan asam folat, tapi kalo lu udah minum, berarti yang lain. Dia cacat, mungkin meninggal di dalam, kita nggak tahu kapan, baru kita keluarin dia. Bisa juga hidup sampai waktunya dilahirkan, kita lahirkan dia.”

Air mata saya langsung berderai. Kenapa baby saya? Baby ini saya minta lewat misa novena sembilan hari, kenapa Tuhan beri baby seperti ini?

Jc terpaku. Tangannya yang sedang menvideokan monitor USG dengan Hp untuk memperlihatkan ke anak-anak, langsung dimatikan. Jc berdiri mematung di samping dokter. Mukanya langsung pucat.

Dokter masih di depan monitor, dia menunjukkan kepala baby hanya sampai batas alis. Tubuh lainnya sempurna, baby sudah punya tangan kaki yang lengkap, tidak berhenti meninju dan menendang, semua jari sudah lengkap, jenis kelamin laki-laki, sum-sum tulang belakang berjejer rapi, tapi sampai pangkal leher, tempurung kepalanya hanya separuh, separuh diatas tidak ada. Kepalanya terbuka. Penyebabnya bukan virus atau genetik, tapi karena satu sel tidak menutup, kebetulan sel otak, sehingga otaknya terbuka. Kejadiannya saat hamil tiga-empat minggu. Sekitar satu minggu setelah pembuahan. Sebelum diketahui hamil.

Dokter menerangkan satu persatu kepada kami. Tidak adanya otak tidak memungkinkan baby untuk hidup karena otak adalah koordinator dari jantung, paru-paru. Mungkin hidup.., tapi paling lama sehari. Biasanya langsung meninggal saat lahir. Baby juga akan terlambat lahir karena kepalanya tidak ada tempurung untuk menekan jalan lahir dan baby tidak produksi hormon di otaknya untuk perintahkan kontraksi ke ibu.

“Roh itu kekal,” kata dokter menguatkan kami. ”Biarkan dia hidup,” pintanya, “ini Tuhan punya mau. Badan kita akan mati, tapi roh tidak pernah mati, dia hidup selamanya.”

Saya menggeleng-gelengka n kepala, saya tidak percaya baby cacat. Saya menangis terus.

“Kita pelihara dia sampai Tuhan sendiri panggil dia,” lanjut dokter. “Kita nggak berhak membunuh dia, secacat apapun dia, kita pelihara dia. Toh dia tidak menyakiti ibunya, dia tidak minta biaya, dia tidak susahin ibunya, dia juga nggak akan hidup lama. Dia hanya minta dilahirkan….Tabah ya, Yenny, ini Tuhan punya rencana.”

Saya tidak bisa menjawab hanya menatap dokter kosong. Jc di sisi saya langsung merangkul bahu saya. Wajahnya penuh air mata.

“Saya bisa bicara begini, karena saya pernah alami yang sama,” kata dokter. “Anak saya waktu umur enam bulan divonis mati, kena leukemia. Dia tidak mungkin hidup karena kena leukemia yang paling ganas dan paling jarang di dunia. Saya cari dokter di mana-mana, ke Amerika, Belanda, Inggris, semuanya suruh saya bawa pulang lagi anak ini, karena dia tidak mungkin tertolong. Sampai akhirnya Hongkong mau coba kemo dia, dengan catatan akan meninggal juga pada akhirnya. Dokter sana bilang sudah tidak ada harapan lagi. Tapi saya bilang, coba, coba aja kemo dia, saya sudah rela kalau dia harus meninggal. Saya sempat marah ama Tuhan, kenapa Tuhan, saya sudah tolong orang, saya tidak berbuat jahat, kenapa Tuhan beri anak seperti ini? Seorang biarawati sampai nangis saya omelin. Saya bernazar ama Tuhan, kalau anak ini sembuh, saya akan bekerja untuk Tuhan, saya serahkan anak ini untuk Tuhan pakai, saya akan bawakan kesaksian, saya akan bangun rumah untuk Tuhan. Setahun lamanya dikemo, akhirnya anak saya sembuh. Sekarang sudah delapan tahun..”

Dokter menceritakan sambil menahan dirinya untuk tidak ikut menangis, menggigit bibirnya, air matanya penuh di pelupuk mata, hidungnya merah.

“Jadi..,” suaranya parau, “jangan bunuh dia, Yenny… biarkan dia hidup, pelihara dia baik-baik.”

Kami berdua masih belum percaya dengan kenyataan pahit ini.

Lama kami semua terdiam. Mengapa semua ini terjadi?

“Saya serahkan pada kalian..,” suara dokter nyaris tak terdengar, matanya menatap kami dalam-dalam, “kalau memang kalian nggak mau dia.., saya nggak bisa apa-apa, ini anak kalian..”

Kami tidak berkata apa-apa, pikiran semakin kosong.

“Saya akan rujukkan ke dokter lain…,” kata dokter dengan suara sangat berat, “yang mau keluarkan dia..”

Dokter terdiam lama, menatap kami berdua dan menunggu jawaban.

”Saya sendiri minta maaf, saya nggak mau lakuin..,” katanya dengan suara tercekat. “Dulu saya pernah keluarkan baby cacat, waktu itu saya belum mengenal Tuhan. Tapi kemudian Tuhan sendiri yang tegur saya, dia marah saya, Ronny, kenapa kamu lakukan ini? Kenapa kamu bunuh dia? Kenapa kamu buat hal yang paling Saya benci? Secacat apapun dia, kamu nggak berhak untuk ambil nyawanya ….”

Dokter mengambil napas dalam-dalam. “Saat saya melakukan aborsi, saya dikejar perasaan bersalah dan nggak akan bisa lupa selamanya, bayangan bayi saat dikeluarkan masih menggelepar- lepar,” dokter memejamkan matanya rapat-rapat seakan hendak membuang jauh-jauh bayangan gelap yang selalu menghantuinya. “Buat apa saya yang aborsi, kalau masih ada orang lain yang mau melakukannya. .”

“Jangan diaborsi..,” potong saya. Hanya itu yang dapat saya katakan. Biarpun baby akan cacat, akan mati, tapi jangan dibunuh, saya sangat mencintai dia. Saya sudah bisa merasakan keberadaaannya, tendangannya sudah mulai terasa sesekali. Biarkan dia hidup.

“Kalau dilahirkan sekarang atau nanti…, mana yang lebih berbahaya Dok, saya takut istri saya pendarahan lagi,” tanya Jc.

“Pendarahan atau tidak, sulit dipastikan. Mungkin aja saat aborsi terjadi pendarahan, mungkin juga tidak. Dan belum tentu juga nanti melahirkan terjadi pendarahan. Nggak ada yang bisa jamin. Gua tidak tahu gimana dulu bisa terjadi pendarahan, dokter lu ada kasih penjelasan?” tanya dokter.

Saya menggeleng. “Enam jam setelah melahirkan.”

“Mungkin karena kontraksi balik rahim lu nggak bagus sehabis melahirkan. Jadi, gua saranin kali ini lu nggak boleh caesar, nggak boleh pakai epidural, kita coba lahirin normal. Caesar atau epidural itu kan bius, nanti bikin rahim lu kontraksinya makin lemah, bisa bikin lu pendarahan. Lu kan udah punya riwayat pendarahan, kita coba hindari. Nanti sambil jalan kita lihat.”

Lahir normal? Saya tercekat. Dua kali saya keenakan memakai epidural saat melahirkan, tidak terbayang kalau kali ini harus melahirkan normal. Saya pernah bilang ke Jc kalau tidak ada epidural, saya tidak mau punya anak lagi. Kali ini saya tidak punya pilihan…

“Dok, perlu USG 4D nggak?” tanya saya sambil menangis.

“Nggak perlu,” jawab dokter. “Karena ini sudah jelas sekali anencephaly. Lu nggak perlu buang-buang duit. Tapi kalo lu diganti kantor atau asuransi atau lu mau second opinion, silahkan, gua buatin pengantar ke Dr. Calvin. Nanti lu cek ya di depan kapan dia praktek.”

Kemudian dokter menuliskan surat pengantar untuk ke Dr. Calvin.

Mata dokter masih berkaca kaca. Dokter menghapus sedikit air mata di ujung matanya agar tidak mengalir turun.

“Buat gua berat sekali untuk kasih tahu pasien kalau babynya cacat, apalagi kalau tidak ada harapan hidup... Tapi paling berat kalau babynya cacat spina bifida.. ”

Dokter memberikan tissue kepada saya. “Tabah ya, Yenny,” katanya perlahan. “Ini Tuhan punya rencana. Lu kontrol dua-tiga bulan aja, nggak perlu antri berjam-jam, kapan lu sempat, lu kontrol. Gua cuma resepin tambah darah dan kalsium buat lu punya tulang.”

Lalu dokter salaman dan menepuk-nepuk punggung Jc, “Tabah ya, kita tetap pelihara dia baik-baik. Saya hargai keputusan kalian untuk nggak bunuh dia.”

Saya tidak dapat berkata-kata lagi, air mata tidak bisa berhenti mengalir.

Tuhan, kenapa kasih baby seperti ini? Kau bisa buat jantungnya berdetak sempurna, Kau beri rusuk dan sum-sum yang tersusun rapi, kenapa tidak sekalian Kau beri otak dan tempurungnya?

Jc hanya terdiam. Dia sama shocknya. Dia hanya bisa mengelus kepala saya, matanya berlinang dan menangis diam-diam. Tubuhnya bergetar. Saat menyetir pulang, baru terdengar suaranya, “kita kena juga ya…, kirain cuma kena ke orang lain...”

Kami pulang penuh duka. Anak anak menyambut kami dengan gembira. Mereka sudah diberitahu kalau akan punya adik baby.

Ketika anak-anak tidur siang, kami searching di internet mengenai anencephaly. Sama seperti yang dijelaskan dokter, kekurangan asam folat diduga sebagai salah satu penyebabnya. Lalu kami menngecek nama baby di internet : Ancillo Dominic. Yang ada hanya Ancilla Domini, nama perempuan, artinya Hamba Tuhan, nama kecil bunda Maria.

Kami telah menyiapkan dua nama laki laki. Anak-anak lebih menyukai adiknya bernama Ancillo Dominic daripada Dominic Xavio, santo temannya Don Bosco. Di internet tidak banyak yang bernama Ancillo. Hari itu kami putusan baby bernama Ancillo.

Hari pertama rasanya panjang, air mata tidak bisa berhenti, untunglah ada anak-anak sehingga saya tidak berani menangis di hadapan mereka yang belum mengerti.

Setiap malam sebelum tidur, kedua kakaknya meminta kepada papa Yesus dan mama Maria agar adik baby bisa lahir dengan sehat dan selamat. Hati saya sedih setiap kali mendengar doa anak-anak yang polos.

Hampir setiap subuh jam 3-4 saya terjaga, saya pindah ke kamar di lantai lain untuk menyendiri berdoa koronka, rosario, novena Hati Kudus Yesus, novena Tiga Salam Maria, bercakap-cakap dengan Tuhan, memohon kesembuhan baby.

Biasanya saya berdoa sampai ketiduran dengan baju dan bantal basah dengan airmata. Jc sering membangunkan saya jam 6 pagi, katanya “Jangan sering sendirian, ya.”

Saya menceritakan hal ini ke adik dan kakak saya, tapi tidak ke mama saya, karena saya tahu dia pasti minta menggugurkan kandungan ini.

Selain itu saya hanya cerita ke dua orang teman di kantor dan satu teman di kantor lain. Saya menjalani kehamilan di kantor dengan biasa-biasa saja, tidak pernah saya menangis di kantor. Saya tidak mau orang lain mengetahui, mengasihiani saya atau bertanya-tanya. Nanti, kalau saatnya saya sendiri sudah recovery, saya akan menceritakannya.

Tiga hari kemudian kami menemui Dr. Calvin Cong. Suster dokter ini sempat menolak karena umur kandungan saya tanggung, yaitu 17 minggu, biasanya screening di umur 11-13 minggu untuk cek DS, kemudian 20-24 minggu untuk mengecek jantung, kemudian di akhir kehamilan. Saya membohongi suster ini dan mengatakan bahwa Dr. Ronny yang minta, akhirnya Dr. Calvin mau.

Saya sangat menantikan pemeriksaan ini, saya sangat berharap ada dokter lain yang berkata bahwa diagnosa Dr. Ronny salah, bahwa baby sehat-sehat aja, bahwa USG 2D memang sering salah. Tapi hal ini tidak pernah menjadi kenyataan.

Malam itu, sekitar jam 7 malam, kami menemui Dr. Calvin, tampangnya cool, saya sudah menyiapkan banyak pertanyaan, soalnya saya takut menangis sehingga tidak bisa bertanya.

Menurut dokter, penyebabnya bukan genetik, makanan, virus maupun asam folat.

Di Indonesia berbeda dengan di German, jelas dokter yang german-minded, karena baru kembali dari sana, di German, wanita sejak remaja sudah minum asam folat dosis tinggi yaitu 4 mg, untuk mencegah DS. Sedangkan di Indonesia, dosisnya hanya sepersepuluh dari yang diminum orang German, dengan kandungan obat yang dipertanyakan. Obat di Indonesia, sebagian isinya sampah, tidak sesuai dosis. Bahkan di Singapura pun tidak menjual asam folat dosis tinggi.

Anencephaly pertama ditemukan di Skotlandia, banyak terjadi di Eropa, di Asia sangat jarang. Biasanya orang akan mengaborsinya, atau bila dibiarkan sampai lahir akan langsung menguburnya, jarang sekali diotopsi sehingga tidak banyak penelitian mengenai cacat ini.

Dokter memeriksa USG 4D di ruang gelap dengan layar besar terpampang seperti bioskop kecil, suara musik klasik mengalun perlahan di ruangan.

Kami juga menceritakan riwayat pendarahan yang lalu. Dokter sedikit terkejut. Seharusnya saya tidak boleh hamil lagi apalagi kalau pendarahannya lebih dari 500cc. Seingat saya lebih dari itu, lebih banyak dari dua kantong darah untuk ukuran pria.

Dokter memulainya dengan jari tangan dan kaki baby. Semuanya sudah lengkap. Kedua ginjal tidak bagus, berkapur. Jantung bagus. Satu jam sendiri untuk mengecek jantung, untuk mengetahui bocor atau tidak. Saya sempat tidak sabar kenapa harus berlama-lama mengecek jantung, kalau nantinya baby tidak akan hidup. Saya ingin dokter segera mengecek kepalanya.

Dokter menjelaskan kalau jantung bocor besar bila didengar dengan stetoskop, alat yang sederhana, bunyinya hampir sama dengan jantung normal. Tapi kalau jantung bocor kecil malah terdengar, seperti suara mendesis. Biasanya dokter sulit menemukan jantung bocor besar sehingga berakibat fatal dan terlambat penanganannya.

Menurutnya, beberapa bayi yang lahir mati, biasanya disebabkan oleh jantung yang bocor. Tetapi dokter sini lebih suka bilang kelilit, karena lebih muda diterangkan ke orang awam. Padahal bayi belum bernapas dengan tenggorokan dan paru-paru, sehingga kelilit bukan alasan lahir mati.

Dokter pun menolak aborsi. Masih terbayang di matanya ketika bayi yang diaborsi meninggal di tangannya, karena tidak ada pilihan lain.

Seorang wanita German, idiot, dihamili tidak jelas. Bayinya menderita cacat tulang, seluruh tulangnya rapuh tulang patah-patah di dalam. Bayinya sangat kesakitan. Si ibu tidak memungkinkan untuk memelihara bayi ini. Dokter German yang dikenal tidak beragama, walaupun mengakui Tuhan ada, tidak mau melakukan aborsi. Bagi yang menemukan kasus, dia sendiri yang harus membereskan. Akhirnya baby disuntik mati dengan alasan baby sangat kesakitan sekali dan hal ini dibenarkan secara medis.

Kepala baby bersembunyi di tulang panggul sehingga dokter musti mengelitiknya dan dengan sabar menunggu baby balik badan untuk mengecek kepalanya. Matanya lengkap, hidung dan bibirnya sudah terbentuk. Mukanya tidak sempurna, kata dokter mirip kodok. Kepalanya terbuka, otaknya ada, tapi makin lama makin mengecil karena cairannya terserap tubuh. Makanya, ketika USG di umur 12 minggu belum kelihatan, masih kelihatan normal.

Dokter memuji Dr. Ronny yang menurutnya teliti, dokter lain mungkin tidak akan menemukan ini di usia ini. Di luar negripun biasanya ditemukannya di usia 24 minggu, kalau USG 4D sudah bisa diketahui sejak 12 minggu.

Dokter mengingatkan untuk siap-siap ‘hamil gajah’ karena baby tidak bisa menelan air ketuban dan ginjalnya abnormal, sehingga cairan ketubannya akan banyak sekali. Hal ini justru bagus biar baby kesempitan di dalam dan lebih cepat lahir atau meninggal di dalam sebelum waktunya, diperkiraan sekitar umur 5 bulan.

Dokter menceritakan bahwa dia pernah menemani temannya seorang pendeta, anaknya menderita DS. Teman ini protes ke pdt. Stephen Tong, kenapa dia yang suka mendoakan orang, yang pendeta tapi diberi anak DS. Stephen Tong bilang, kalau semua manusia sempurna, manusia tidak ada sisi kemanusiaannya lagi. Kita nonton tv, kita kunjungan ke orang cacat, kita lihat…tapi tidak akan timbul rasa kasihan. Baru bisa merasakan bila kita benar-benar hidup bersamanya dan merawatnya. Dengan merasakan penderitaan baru kita bisa mengerti penderitaan orang lain.

Dokter mengingatkan bila aborsi masalah akan cepat beres, tapi ibu akan selamanya dikejar perasaan bersalah karena telah membunuh bayinya, hatinya tidak akan tenang, untuk itu harus hati-hati jangan sampai ibu depresi bahkan gila. Dokter meminta Jc untuk support penuh kepada saya karena saat ini adalah saat yang paling sulit dilewati.

Selesai kontrol dengan Dr Calvin, kami menunggu hasil di luar dan proses admin pembayaran.

Tiba-tiba seorang suster menghampiri saya, katanya Dr. Ronny ingin bertemu sebentar. Saya sempat bingung, kan baru ketemu beberapa hari lalu.

Setelah menunggu satu pasien, suster memperbolehkan kami masuk. Di dalam, dokter sudah memegang satu copy surat rekomendasi dari Dr Calvin dan beberapa foto USG. Sama persis seperti yang ada di tangan saya.

Mata dokter berkaca-kaca ketika dia mengamati foto baby, air matanya nyaris tumpah, hidungnya memerah. Satu tangannya memegang foto, satunya lagi menekap mulutnya rapat-rapat. Dokter belum bicara apa-apa tapi saya sudah menangis lagi, padahal selama satu setengah jam bersama Dr Calvin saya cukup kuat untuk tidak menangis dan dapat bertanya sebanyak-banyaknya.

“Yenny, saya ikut sedih..,” katanya pelan, menaruh tangannya di atas tangan saya, “tapi lu nggak usah takut.., baby nggak kesakitan apa-apa, tiap hari dia makan enak dari mamanya, dia merasa hangat, dia senang-senang aja di perut mamanya.”

Lalu dokter menatap Jc dalam-dalam, katanya, “saya appriaciate, kalian mau lanjutin untuk hamil. Roh itu kekal, tidak akan mati. Di surga nanti, dia akan menemui orangtuanya untuk bilang terima kasih sudah pelihara dia dengan baik, sudah merasakan kasih sayang orang tuanya.” Kata-kata pendek tapi begitu menyentuh.

“Saya juga punya satu pasien,” lanjutnya, “babynya cacat jantung, parah banget, tidak mungkin untuk hidup. Dari awal dia minta saya dikeluarin, tapi saya bilang, jangan bunuh dia, pelihara dia sampai waktunya tiba. Akhirnya, waktu umur tujuh bulan, babynya meninggal di dalam. Ketika dilahirkan, ibu itu bilang kalau dia terlanjur sayang dengan anak ini, apalagi ketika anak ini sudah mulai tendang-tendang di perutnya, dia makin sayang ama anak ini. Ibu itu berterima kasih karena dia nggak jadi menggugurkan. Dia sangat-sangat sedih, tapi juga bersyukur karena masih sempat menggendong babynya sesaat setelah dilahirkan.”

“Kalau baby meninggal…,” kata saya diantara isak tangis, “biasanya disimpan dimana, Dok?”

“Biasanya langsung dibawa pulang keluarganya karena rumah sakit nggak bisa simpan lama, kita nggak punya alat seperti freezer.”

“Dok, dokter Calvin bilang saya akan hamil gajah, ginjal baby nggak bagus, mungkin hanya sampai lima bulan meninggal..”

“Mungkin.., mungkin juga nggak,” kata dokter. “Lu nggak usah pikirin gimana nanti. Kalau lu rasa baby nggak gerak-gerak lagi di perut, lu kontrol ya. Lu pasti bisa tahu kalau dia udah nggak ada. Kalau dia meninggal di dalam, nanti kita lahirkan dia. Lu udah betul, pelihara dia baik-baik, kalaupun dia meninggal nanti, lu nggak akan menyesal sudah pelihara dia, sudah sayang dia..”

Lalu dokter mengantar kami berdua sampai ke pintu ruangan. Dokter menepuk-nepuk punggung Jc dan berpesan, “yang kuat ya, dampingi dia terus.”

Dada saya sesak sekali, cobaan satu belum selesai sudah datang cobaan lain, bertubi-tubi. Air mata ini juga tidak bisa berhenti mengalir. Malam semakin larut, kami pulang tambah berduka, melewati hari-hari yang sangat berat, tidak ada harapan lagi, tidak ada yang bisa kami lakukan.

Ancillo dikandung penuh dengan doa. Saat novena meminta baby, memang saya berkeinginan agar dapat lebih dekat dengan Tuhan. Saat hamil adalah saat saya penuh harap kepada Tuhan, begitu tak berdaya dihadapanNya.

Kadang hari Sabtu kami misa pagi, semua untuk kesembuhan baby. Dalam beberapa misa, kami persembahkan baby sebagai intensi misa. Kadang siang hari, jam tiga siang, kami mampir ke gereja, berdoa di depan tabernakel, doa koronka dan rosario, karena seperti ditulis di buku harian St. Faustina, Yesus senang bila ada yang mengenangNya di jam kematianNya, banyak permohonan dikabulkan bila kita memintanya di jam kematianNya, yang kita minta dalam sengsaraNya yang pedih.

Hari-hari bersama baby sangat menyenangkan, dia tumbuh seperti kakaknya dalam kandungan, malah dia sangat aktif dan suka menendang. Saya sempat bilang ke dokter, sepertinya baby tidak pernah tidur, dia seharian menendang-nendang. Tapi dokter malah jawab sambil menahan tawa, masa sih, baby juga tidur kok.

Baby selalu terbangun saat doa subuh, setiap misa, seakan dia ikut berdoa.

Pada saat misa menjelang komuni, saat konsekrasi, saya selalu minta kesembuhan baby, dan saya selalu mengganti doa prajurit romawi menjadi ‘Ya Tuhan, saya tidak pantas Tuhan datang pada saya, tetapi bersabdalah saja maka Ancillo akan sembuh.’

Setelah menerima komuni, saya memohon, Yesus yang sudah datang ke dalam hatiku, Kau berada hanya beberapa senti dari baby, sembuhkanlah baby, temani dia selalu.

Kakak saya menyarankan ke Rm. Yohanes, seorang teman menyarankan saya ke Rm. Rohadi, karena beberapa mujijat penyembuhan terjadi dan seorang teman lain menyarankan ke Pdt. Pariadji, karena ada mujijat bayi hidup padahal sudah divonis mati dalam kandungan dan bayi hidrocefalus disembuhkan. Saya sendiri ingin ke Rm. Somar karena saat mengandung Vincent umur lima minggu, romo mendoakan saya sehingga kista sebesar 10 cm hilang. Dr Yani sampai bingung saat itu. Semuanya begitu menggoda. Tapi Jc bilang, kita devosi aja, tidak perlu pergi ke satupun dari mereka. Yang menyembuhkan tetap Yesus, jadi minta ama Yesus, kalau tidak sembuh juga tidak apa-apa.

Saya sempat berkaul seperti dokter, barangkali Tuhan mau berbelas kasih. Kalau Ancillo sembuh, saya akan serahkan dia untuk Tuhan, saya akan dirikan panti asuhan, saya akan wartakan kemuliaan Tuhan. Tapi kemudian saya bertanya-tanya sendiri, bagaimana caranya mewartakan kemuliaan Tuhan? Apa Tuhan mau dengan diri saya yang percaya Tuhan hanya diomong saja, yang tidak sungguh-sungguh mengenalNya? Yang hanya mencari Tuhan untuk kesembuhan Ancillo. Setiap hari selama berbulan-bulan saya berdoa memohon mujijat.

Saya bertanya ke seorang teman yang banyak kenalan romo, kira-kira siapa yang enak diajak konsultasi. Tahunya romo juga banyak spesialisasinya, mengenai narkoba, perkawinan, penyakit, hukum gereja, dan lain-lain. Akhirnya teman saya memilihkan romo yang paling bisa diajak konsultasi, Rm. Rolly Untu Msc. dari gereja Kemakmuran. Waktu yang disediakan romo hanya setengah jam karena pagi itu romo sudah janji mau dijemput untuk memberikan perminyakan suci ke seorang ibu yang menderita sakit tua berumur 94 tahun. Saya hanya ingin bertanya mengenai upacara bila baby meninggal nanti dan bertanya mengenai donor organ apakah diperbolehkan gereja.

Tahunya romo belum pernah misa untuk baby meninggal, walaupun adiknya sendiri meninggal saat lahir, waktu itu dia masih kelas 6 SD. Menurutnya, misanya akan sama seperti orang dewasa. Bila baby sempat hidup, dia akan dibaptis dulu, baru perminyakan suci. Untuk donor organ, selama tujuannya untuk menolong sesama dan donor dari yang sudah meninggal, diperbolehkan. Tapi kalau untuk ilmu pengetahuan misalnya bila diserahkan ke Patologi UI untuk dipelajari, romo tidak dapat menjawab.

“Apakah rohnya akan selamanya baby?” tanya saya.

Saya benar-benar tidak bisa membayangkan baby yang setiap hari saya ajak berdoa ini harus diajak berbicara seperti baby atau orang dewasa.

Romo mengeleng-gelengkan kepala, tidak bisa menjawab, katanya, “Roh itu tidak bisa dibandingkan dengan badan manusia yang melalui proses dari baby, merangkak, berjalan, dewasa, tua dan meninggal. Di alkitab ditulis, bagi manusia seribu tahun tapi bagi Tuhan hanya sehari.”

“Romo, apakah mujijat itu benar ada?” tanya saya.

“Mujijat ada,” jawabnya pendek.

“Apakah romo pernah lihat langsung?”

“Satu kali,” jawabnya. “Saya lihat orang lumpuh berjalan sesaat di KKR. Tapi saya tidak tahu apakah dia bisa berjalan besok dan besok-besoknya. Kalau Yesus yang sembuhin, selamanya orang itu akan berjalan. Ada juga yang sudah direkayasa. Sulit sekali terjadi mujijat, tidak semurah-meriah yang kita lihat di tv. Kita tidak tahu yang mana yang benar-benar mujijat. Sama seperti manusia bila akan meninggal, di detik-detik terakhir, tiba-tiba dia makan, minum, sehat, jalan, seakan sembuh, tapi besoknya meninggal. Itu yang namanya kekuatan terakhir. Gereja Katolik sangat hati-hati dalam menyebut mujijat. Seperti di Lourdes, kalau kita ke sana, ada ribuan kruk tergantung, belum lagi kursi roda yang ditinggal, tapi hanya sedikit mujijat yang diakui gereja.”

21 minggu

Hari itu lebih ramai dari biasanya, ketika kami menaruh buku kesiangan sepuluh menit saja sudah dapat nomer belasan.

Dokter menyambut kami dengan gembira dan memeriksa baby dengan seksama.

Setelah selesai periksa, dokter menceritakan kalau dia baru dimarahi oleh seorang ibu. Babynya terkena tokso, telapak tangan kiri tidak ada.

Di awal kehamilan dokter sudah menemukannya dan menulis di bukunya, tapi dokter prefer tidak memberitahukan ke orangtua baby, dia merahasiakannya, biar bagaimanapun baby ini harus dilahirkan.

“Untuk cacat minor, tidak seorang dokter pun boleh aborsi,” katanya.

Orang tua baby itu begitu marah saat melihat baby cacat. Kata mereka, kalau tahu baby akan cacat, dari awal mereka akan keluarkan.

“Ibu..,” kata dokter, “bayi ibu tidak kurang apa-apa, dia cuma tidak punya telapak tangan, masih banyak bayi yang cacatnya lebih berat, tapi ibunya tetap terima dia.”

Ibu itu tetap tidak bisa terima dan tidak bersyukur.

Mungkin sudah insting dokter untuk mempertahankan baby itu agar tetap hidup walaupun resikonya dia habis kena marah.

26 minggu

Hari itu mood dokter sedikit jelek, begitu datang dia langsung meminta maaf karena sudah bikin saya menunggu lama. Senyum menawan yang selalu menghias wajahnya lenyap.

Dia sedang kesal dengan orang yang suka cari hari dan jam untuk caesar, karena bikin berantakan semuanya dan mengorbankan orang lain.

Biasanya hari Sabtu pagi dokter mulai praktek jam 8.30, kadang lebih pagi, tapi hari itu baru mulai jam 11 siang, karena tiba-tiba didatangi dua keluarga untuk caesar tanpa perjanjian sebelumnya karena jamnya bagus. Jadinya pagi itu dokter caesar empat orang, dan setelahnya dokter sekalian visit pasiennya yang akan pulang.

Saya menunggunya sampai gempor dan kelaparan. Soalnya suster bilang cuma caesar dua pasien, itupun dokter sudah stand by dari jam 6 pagi, tapi kenapa dokter tidak muncul juga. Mau pulang juga sudah tanggung.

Begitu saya masuk dapat nomer 1, di meja dokter sudah penuh dengan buku, membentuk beberapa jejer selebar meja, sampai hampir tumpah di ujungnya, hanya meninggalkan sedikit space di tengah-tengah. Bukunya sudah lebih dari nomer 60, di luar suster masih terus tensi, pasiennya masih terus berdatangan.

“Manusia kalau dikit-dikit lihat hari, lihat jam, lama lama manusia jadi terbelakang, percaya tahyul,” kata dokter. “Nggak usahlah lihat-lihat hongsui, tanggal, hari atau jam, Tuhan sudah atur semuanya, dan semuanya bagus. Betul nggak?” tanyanya pada Jc, masih sedikit jengkel.

“Iya,” jawab Jc sambil senyum, lucu melihat dokter tumben bete.

Sambil berdiri, dokter menggeser-geser dan merapatkan barisan buku-buku di mejanya supaya ada sedikit space untuk menaruh tangan agar bisa bergerak.

“Saya nggak tahu, dari mana aja pasien saya sebanyak ini. Minggu lalu ada yang dari Sumatra. Bingung saya, kenapa jauh-jauh cari saya?” tanyanya heran.

“Itu yang namanya rejeki, Dok” kata suster tinggi berkacamata disampingnya. Usianya sudah setengah baya.

“Begitu ya, sus?” tanya Dokter, matanya tidak lepas menatap suster itu, menunggu jawaban darinya.

“Rejeki dari Tuhan, Dok,” jawab suster itu dengan sabar, seperti seorang ibu sedang menasehati putranya.

“Oya. Jalani aja. Semua dari Tuhan. Begitu kan, Sus?” tolehnya ke suster.

“Iya,” suster menjawab dengan senyum sabar.

“Saya juga sedih, banyak pasien, banyak juga fitnah yang saya terima,” katanya sambil menggelengkan kepala, mukanya meringis. “Banyak….,” suaranya bergetar. Pasrah. Dokter menghela napas. “Mau diapain, ya sudahlah.. toh saya bekerja untuk Tuhan.”

Moodnya berubah cepat, begitu jalan ke kursinya untuk USG, wajahnya sudah cerah kembali, melangkah ringan sambil bernyanyi-nyanyi.

Dokter mengukur panjang kaki dan tangan baby.

“Yenny, baby lu sehat sekali,” seru dokter. “Coba lu lihat ini, dia happy, dia lebih besar dua minggu dari umurnya. Ukurannya 28 minggu, lu kan baru 26.”

“Kok gede ya, Dok?” tanya saya.

“Emang yang pertama dan kedua berapa?” tanyanya balik.

“Tiga kilo dan tiga enam.”

“Lumayan gede,” kata dokter, “baby nggak akan seberat kakaknya, karena dia nggak punya termpurung. Tapi ini ukurannya udah bagus banget, dia sehat sekali.” Dokter menerangkan sambil berbinar-binar.

Dokter kembali memperlihatkan bagian-bagian tubuh baby yang sudah sempurna terbentuk. Dia juga memperdengarkan jantung baby, bagus semua.

Sekembalinya di mejanya, dokter berkata, “jangankan baby cacat, baby sehat pun bisa dipanggil Tuhan kapan aja..”

“Kemarin pagi,” ceritanya, “saya baru tolong satu ibu melahirkan. Jam 5.30 pagi ibu itu datang ke kamar bersalin, kontraksi, 39 minggu. Lalu di CTG selama setengah jam, kondisi ibu dan baby bagus tinggal menunggu pembukaan. Tiba-tiba jam 6, kondisi jantung baby resah, drop ke 50. Saya ditelpon suster, terus saya kasih instruksi supaya ibunya tidur miring ke kiri biar oksigennya lebih banyak. Saya segera datang, lima belas menit kemudian, jam 6.15 langsung siap caesar karena jantung baby sudah makin drop. Begitu baby dikeluarin sudah tidak tertolong, keburu meninggal di dalam.”

Dokter terdiam lama.

”Siapa sangka….,” katanya pelan sambil menggeleng-gelengka n kepala. “Kita nggak bisa duga…, selama sembilan bulan kontrol, USG, semua bagus, sampai minggu lalu kontrol terakhir masih bagus semua, kenapa pas detik terakhir… tinggal lahir malah meninggal? Sebentar aja udah nggak ada. Kita nggak tahu Tuhan punya mau.”

Matanya menerawang ke atas. “Sebelum ke sini, saya sempat tengokin dia, kasihan sekali dia, masih bengong-bengong sendirian di kamarnya.”

Dokter menghela napas panjang dan termangu menatap kosong lembaran kertas putih untuk dituliskan resep.

Saya bisa membayangkan pasti ibu itu sudah menyiapkan dengan sempurna semua keperluan baby mulai dari baju baru, kaos kaki dan tangan, topi, popok, kain bedong, minyak telon, bantal, selimut, tempat tidur baru, kamar baby. Sekarang impiannya hancur...

Kami ikut diam, memperhatikan dokter.

Kami menunggunya, sampai akhirnya dokter mendongakkan kepala dan bertanya, “Vitamin masih ada, Yen?”

Nah, dia sudah kembali. Seperti biasa dokter hanya meresepkan obat tambah darah dan kalsium karena dokter tahu saya alergi susu.

Ketika pulang, saya bilang ke Jc, lain kali kita ke kontrol dokternya ajak anak-anak saja. Jadi dokter tidak cerita yang sedih-sedih. Jc cuma bilang, nggak usahlah, dokter kan juga perlu curhat. Dia cuma bisa curhat ama kita, kalau pasien yang babynya baik-baik aja, mana mungkin dia cerita kayak gini. Bener juga.

Saya sempat bertukar cerita dengan beberapa teman yang pernah dirawat oleh dokter, mereka bilang dokter jarang cerita, cek biasa aja, yang pasti dokter enak diajak ngomong, kalau diSMS pasti dijawab, segar banget orangnya, dan ngomongnya gua-elu. Bahkan ada seorang teman sering SMS dokter, iseng aja, katanya senyum penuh rahasia.

30 minggu

Saya sempat balik sekali ke Dr. Yani. Saya langsung memperlihatkan foto baby USG 4D. Dokter tersentak kaget, badannya mundur, menjauh dari mejanya, langsung mengangkat kedua tangannya. “Ya mau diapain lagi… ini udah rencana Tuhan..” Hanya itu yang dikatakan olehnya.

Dokter sempat kesal karena lima bulan saya tidak kontrol dengannya, malah pindah ke lain hati. Padahal semua bayi yang jumlahnya selusin di keluarga kami ditambah beberapa bayi dari sepupu saya, lahir ditangannya.

Sambil USG, dokter berkata, “hamil lagi deh, berikutnya nggak akan begini lagi, saya jamin. Ini boleh dibilang ….,” kata-katanya mengantung.

“Apes?” tanya saya, sepertinya dokter memang ingin bilang kata ini.

Tapi dokter tidak mengiyakan maupun membatah, kepalanya antara mengangguk dan menggeleng.

“Dok, apa saya musti minum asam folat dosis tinggi?” tanya saya.

“Percaya sama saya, ini bukan karena asam folat dan hanya terjadi satu kali aja. Makanya saya bilang, abis ini langsung hamil lagi.”

“Dok, saya akan hamil gajah ya, waktu USG katanya ginjalnya jelek?”

Lalu dokter memeriksa ginjal baby. “Ini apa, ginjal kan? Dua-duanya bagus, normal, kalau nggak perut baby udah bengkak.”

Dokter kurang sependapat dengan USG 4D yang menurutnya komersial, rekomendasinya kurang bisa dipakai.

“Jantungnya bisa didonor, Dok?” tanya saya.

Dokter menggeleng-gelengka n kepala. “Jantungnya terlalu kecil, jantung orang dewasa aja susah untuk di donor.”

“Kasus seperti ini sering nggak?” tanya saya lagi.

“Udah sering,” jawabnya. “Di German ada, di PIK ada, di Pluit ada, Mutiara waktu belum jadi Family juga ada. Biasanya hidup tiga hari, yang paling lama hidup tujuh hari, akhirnya meninggal juga. Nanti melahirkannya biasa aja, diinduksi dan pakai epidural, nggak perlu dicaesar. Kalau nggak diinduksi dan epidural, lahirnya bisa lama, takutnya keburu kehabisan tenaga.”

“Apakah dia akan telat lahir?” tanya saya cemas.

“Nggak mesti. Biasa aja, lahir tepat waktu.”

Dokter juga menyarankan untuk kontrol kapan aja, pas hari melahirkan juga boleh, dan minum susu untuk kalsium ibu, tidak perlu vitamin lain.

Kami tidak balik lagi ke Dr. Yani karena merasa lebih cocok dengan Dr. Ronny.

35 minggu

Dokter menunjukkan posisi kepala baby masih di atas, tidak bisa memutar karena sesuai gravitasi, pantatnya lebih berat dari kepalanya, baby sungsang.

“Lu siap-siap lahir pantat ya,” kata dokter santai.

“Kata mama, dulu saya juga lahir pantat dulu,” kata saya. “Apa lingkar pantat lebih kecil dari kepala?”

“Kalau babynya kecil, lingkarnya hampir sama,” jawab dokter. “Tapi kalau babynya gede bisa bahaya, bisa nyangkut di bahu pas lahir. Lu nggak usah takut, baby lu nggak besar, mungkin nggak sampai tiga kilo. Gua coba ukur ya kira-kira beratnya berapa.”

Setelah mengutak-ngatik monitor, dokter berkata, “alat ini selalu minta lingkar kepala, sedangkan baby nggak punya lingkar kepala. Jadi kalau kita masukkin lingkar kepala nol, dia nggak mau keluarin beratnya. Barusan gua ukur dia punya tungkai kaki dan tangan, ukurannya normal. Bagus.”

Dokter masih penasaran mengutak-ngatik lagi. Akhirnya menyerah.

“Baby begini, memang biasanya sungsang, dia nggak bisa muter, pantatnya lebih berat dari kepalanya dan memang lebih bagus lahir pantat sehingga nanti ada penekanan supaya mulut rahim bisa terbuka.”

Sambil USG, dokter cerita, “pagi ini gua praktek kesiangan karena diatas tolong satu ibu dulu, hamil lima bulan tapi udah keburu pecah ketubah, baby mau dicoba untuk dipertahankan satu bulan lagi baru dilahirin, tapi ibunya keburu panas tinggi dan kejang, akhirnya babynya nggak tertolong, belum mateng.. ”

Mata dokter masih di layar monitor, sambil memperlihatkan baby ke saya.

”Dok, mukanya baby akan cakep atau seperti monster?” tanya saya, selama ini gambaran mukanya adalah fotonya saat USG 4D.

“Mukanya biasa aja, seperti muka baby lainnya, hanya aja dia cuma sampai alis.”

“Bisa dipakein topi?”

“Nggak bisa lho, karena dia nggak ada lingkar kepala.”

Belakangan saya baru sadar bahwa dokter berbohong untuk membesarkan hati saya, baby mukanya tidak biasa, sama seperti semua baby anencephaly, matanya menonjol seperti kodok.

“Apa isi otaknya akan berantakan?” tanya Jc

“Otaknya nggak berantakan, seperti tahu, ada penutupnya seperti selaput tipis.”

“Dok, apa jantung atau ginjalnya bisa didonor?”

“Wah bagus sekali kalau bisa,” wajahnya langsung cerah, matanya berbinar-binar. “Coba lu cek ke Harapan Kita. Kalau bisa didonor, dia nggak akan sia-sia kan? Mungkin masih bisa berguna buat yang lain. Bagus sekali lu punya pikiran seperti itu.”

Dokter pun cerita kalau ada pasiennya ada juga yang cacat jantung berat, babynya tidak ada harapan untuk hidup. Kemungkinan saat lahir langsung meninggal. Tapi orangtuanya bilang mereka mau coba lahirkan di Singapura, dan dokter bilang nggak masalah. Ketika kontrol sebulan setelah melahirkan, ibu itu cerita kalau babynya sempat hidup seminggu di ICU, sempat juga jalani operasi jantung tapi akhirnya meninggal juga

“Saya sudah cek di internet, belum ada mengenai donor jantung baby,” kata saya.

“Memang… sulit sekali operasi jantung, apalagi ini jantung baby, kecil sekali.”

“Dok, kalau lahirin nanti, sebelum digunting, dibius dulu nggak?” tanya saya sambil nyengir, ngeri membayangkan harus digunting.

Jc yang sudah dua kali menemani saya melahirkan mengatakan kalau yang digunting adalah daging yang tebal di sekitar pantat, bukan cuma selaput tipis. Saat digunting, bunyinya juga krek-krek-krek.

“Enggak dibius,” jawabnya santai. “Karena rasa sakitnya melebihi waktu digunting.”

Saya cuma melongo, pasrah.

“Pas jahitnya baru dibius,” tambahnya mencoba menenangkan saya, mengerti betul saya sedang cemas. Jawaban dokter tetap aja tidak menenangkan hati saya.

“Kapan kontrol lagi, Dok?” tanya saya.

“Lu kontrol lagi akhir bulan aja, nanti pas 38 minggu aja, nggak perlu mingguan, biasanya kalau akhir bulan lebih sepi, nggak seperti awal bulan, lebih ramai. Jadi lu juga nggak perlu antri lama-lama. Gua biasanya menghibur begini ke pasien,” katanya sambil senyum.

Mau gimana lagi, dokter memang kesayangan ibu-ibu hamil.

Sejak hari Jumat Agung saya ikut novena Kerahiman Ilahi. Saya sengaja mengambil cuti seminggu di kantor. Novena mulai jam 12 siang. Setelah itu saya berdiam lama di depan kanfas besar bergambar ‘Yesus, Engkau andalanku’ sambil koranka, rosario dan jalan salib. Seperti yang diminta Yesus sendiri bahwa Dia sangat ingin ditemani di hari-hari itu. Saya berada di kapel, kadang di gereja di depan tabernakel sampai pukul tiga siang.

Hanya satu pengharapan saya yang terakhir, mungkin Tuhan mau berbelas kasih kepada baby. Segala rahmat yang boleh saya dapatkan, semuanya ingin saya mintakan untuk kesembuhan baby.

Saya berharap baby bisa lahir tanggal 30 Maret, di hari pesta Kerahiman Ilahi, karena janji Yesus sendiri, segala rahmat akan turun dari surga di hari itu. Ternyata, baby belum mau lahir. Saya sedikit kecewa.

Lalu saya kembali masuk kantor. Teman-teman mengira saya sudah melahirkan, karena saat itu sudah 38 minggu.

38 minggu

Hari itu baby muter lagi, kali ini kepala berada di bawah, sudah siap dengan posisi lahir. Saya sempat bertanya-tanya, apa ini jawaban dari novena, karena saya cemas akan melahirkan sungsang. Paru-paru baby sudah matang dan sudah siap lahir.

“Baby akan terlambat lahir sekitar dua minggu, nanti kita lihat, kalau fungsi plasenta sudah menurun baru kita induksi,” kata dokter.

Dokter mengingatkan bila pecah ketuban atau keluar flek darah, langsung ke kamar bersalin lantai 2, nanti suster akan menelpon dokter.

Minggu ini, kata dokter, ada pasien baru, kontrol umur 38 minggu. Baby sudah mau lahir, tapi si ibu tidak tahu kalau babynya tanpa tempurung. Ibunya kaget, dokter sebelumnya tidak pernah inform. Menurut dokter, kemungkinan dokter buru-buru, hanya menghitung panjang lengan dan kaki, kalau kepalanya menyumpet tidak dicari. Saat memeriksa ibu itu, dokter juga tidak percaya kalau babynya tanpa kepala, sampai dokter meminta untuk USG lewat vagina, karena baby sudah turun kadang sulit mengecek kepalanya.

Pasiennya ada yang terkena thalasemia, anak kedua. Orang tuanya masing-masing membawa thalasemia mayor. Anak pertama sehat, tapi anak kedua kemungkinan kena. Mereka bertanya apa yang harus dilakukan.

Dokter mengatakan bahwa cuma bisa amniosintesis, ambil sample air ketuban, lewat pusar ibu. Tapi kemungkinan ibunya bisa terkena infeksi dan baby gugur.

Mereka tidak jadi melakukannya karena yakin babynya akan tidak apa-apa. Saat baby sudah lahir berumur tiga bulan, mereka bertemu dokter lagi, dokter berkata, “baby elu lucu.”

Tapi mereka menjawab, “lucu sih lucu.., tapi menyedihkan. . Benar yang dokter bilang, dia kena thalasemia. Umurnya baru tiga bulan, tapi sudah dua kali transfusi darah, habis cuci darah baru segar lagi, sebentar dia pucat lagi, musti transfusi darah lagi.”

Dokter menerangkan bahwa untuk bayi, transfusi itu sangat menyakitkan sekali karena pembuluh darahnya begitu kecil, susah mencari nadinya dan ditusuk-tusuk. Menderita sekali. Proses ganti darahnya lebih lama dari orang dewasa.

Dokter menyarankan untuk transplantasi sum-sum di Hongkong karena teknologinya sudah 20 tahun lebih maju dan mereka sudah berhasil menyembuhkan thalasemia. Biayanya sekitar 1,5 milyar baru untuk berobat aja, belum termasuk tinggal dan cek rutin.

Mereka bilang ya, saat ini kumpulan dana untuk berobat.

Ada seorang enci jualan manisan di Pancoran, suaminya baru kena stroke, sedangkan jualan manisan sepi sejak issue formalin. Bayinya 35 minggu, jantungnya tidak bagus. Dokter bilang baby mungkin akan meninggal dalam seminggu, jadi kalau bisa minggu depan kontrol lagi.

Tiga minggu kemudian enci itu baru datang lagi, dia bilang babynya udah seminggu lebih tidak bergerak. Dokter mengecek, tahunya sudah meninggal di dalam, baby hanya bisa dilahirkan.

Lalu enci itu menanyakan biaya melahirkan ke admin dan kembali ke dokter mengatakan bahwa biayanya masih kemahalan. Dia menanyakan rumah sakit mana yang murah. Dokter bilang Rs Budi Kemuliaan di Tanah Abang, setahunya murah dan bagus karena rumah sakit itu semi pemerintah.

“Tiap hari ada aja yang bikin sedih, yang cacat banyak, macam-macam cacatnya,” kata dokter, terdiam sebentar, “yang meninggal juga ada...”

Dokter menatap lurus mata saya, “gua cerita banyak ke lu karna gua mau lu tahu … kalau lu nggak sendiri.”

Saya sampai terpana mendengarnya. Tidak pernah terpikir sejauh ini.

Sambil menuliskan resep, dokter cerita kalau dia sedang sedih karena satu pasiennya hendak membuang babynya yang terinfeksi rubella. Dokter sudah mencoba meyakinkan mereka, bahwa ada pasiennya sekarang sudah umur lima tahun, divonis kena rubella saat masih dikandungan, kemungkinan cacat 90%, tapi orang tuanya tetap pertahankan dia, karena masih ada chance normal 10%.

Orang tua anak itu sungguh bersyukur tidak buang baby mereka, nyatanya sampai sekarang anak itu sehat tanpa pernah diganggu rubella.

“Kalau masih ada chance untuk normal, biar cuma 10%, kenapa harus dibuang?” katanya sedih. “Walau nggak ada chance, cacat pun kita pelihara dia, kenapa harus dibuang?”

Kemudian dokter menatap kami, “untung lu tetap pelihara dia,” kata dokter. “Badan ada waktunya mati tapi roh itu kekal, dia tidak akan mati. Di akhir jaman nanti, saat semua dibangkitkan, baby akan bilang mama terima kasih karena mama nggak buang dia. Kalau dulu lu buang dia, saat bertemu nanti, dia akan langsung bilang ‘mama pembunuh’!”

Dokter menghela napas. “Makanya banyak pembunuh yang hidupnya nggak bisa tenang karena terus dikejar perasaan bersalah.”

Iya juga.., bagaimana kalau sampai dicap pembunuh oleh anak sendiri.

“Dok, nanti kalau setelah melahirkan, pas udah boleh pulang, apakah saya boleh ikut kreamasi?” tanya saya.

“Jauh nggak? Kalau dekat-dekat aja dan cuma sebentar sih boleh. Soalnya lu masih belum kuat.”

“Deket kok, di Atmajaya.”

“Kalian sudah ke sana?”

“Udah,” kata Jc. “Tahunya baby nggak perlu difreezer, Dok. Baby tiga hari dibiarin masih bagus, nggak perlu diformalin juga. Kita nggak perlu sewa ruangan karena biasanya baby nggak ditungguin keluarganya. Atmajaya juga akan sediakan satu ruangan kecil untuk kebaktian.”

“Memang, badan baby beda ama kita,” kata dokter. “Badan kita kan udah kotor, perut kita juga makan sembarangan, jadi lebih cepat busuk. Tapi baby kan belum makan, darahnya juga masih bersih, jadi bisa tahan lama.”

Lalu dokter menjadwalkan kontrol berikut, dua minggu yang akan datang.

40 minggu

Sesuai yang dijadwalkan, kami kontrol. Hari itu hari perkiraan lahir. Sudah empat hari saya merasa perut kencang seharian, tapi mulasnya tidak bertambah, masih bisa ditahan.

“Ini lagi kontraksi,” kata dokter sambil memegang perut saya yang saat itu sedang kencang. “Sakit nggak?”

“Nggak,” jawab saya. “Ya segini-gini aja, nggak mau nambah, masih bisa tahan.”

“Memang, baby nggak bisa menekan, dia nggak punya tempurung kepala yang bikin berat, untuk dorong supaya rahim mau ada pembukaan.”

“Posisinya udah turun ya, Dok? Perut atas saya sudah kosong.”

“Memang sudah turun, tapi dia nggak mau menekan.”

Dokter menjadwalkan jam 8 pagi di kamar bersalin, tanggal 16 April. Tadinya dokter meminta tanggal 17 karena dia seharian di rumah sakit ini, tapi saya minta tanggal 16 karena saya ingin baby lahir di hari St. Bernadeth, santa pelindung saya.

Dokter menyetujui, tidak masalah tanggal 16, paginya dia praktek di sini, siang tempat lain, tapi sore balik lagi praktek di sini.

Ibu saya yang pintar cari hari juga mengatakan kalau sampai akhir bulan April, hanya tanggal 16 yang bagus buat melahirkan, lainnya jelek. Andaikan ibu saya menyebut tanggal lainpun, saya tetap memilih tanggal 16.

“Kita tunggu dia kontraksi alami ya, sampai tanggal 16, kalau nggak lahir juga, baru gua induksi. Gua nggak mau buru-buru induksi, nanti lu kesakitan banget, biasanya kalau sudah diinduksi pada nggak tahan, sekalian minta epidural. Lu kan nggak boleh pakai epidural,” kata dokter prihatin. “Lihat nanti deh, atau gua balon dulu ya, gua pancing dia mulas dulu, jadi nggak usah induksi dulu.”

Lalu dokter meresepkan obat pelunak rahim untuk diminum malam sehari sebelumnya. Tapi begitu saya minta disiapkan darah untuk jaga-jaga pendarahan, dokter langsung mencoret resepnya, batal memberikan obat, “jangan obat ini deh, takutnya malah bikin lu pendarahan.”

Dokter berpikir keras, menganalisa segala kemungkinan. “Nanti aja di kamar bersalin baru gua atur, induksinya pelan-pelan aja, jadi lu nggak perlu diepidural, gua bikin lu nggak kesakitan ya,” janjinya.

“Dok, nanti sekalian pasangin selang buat transfusi darah ya?” pinta saya.

“Lu tenang aja,” jawab dokter. “Gua pasti siapin darah buat lu sekalian selangnya. Pasien gua pasti udah dipasangin, jadi kalau pendarahan, bisa langsung transfusi darah, lebih cepat. Kalau pendarahan baru mau cari nadi, udah terlambat, nggak keburu, nadinya susah ketemu.”

Langsung terbayang saat pendarahan yang lalu, beberapa suster berlomba mencari nadi di segala penjuru, kaki, telapak tangan, lengan, kiri dan kanan, semuanya ditusuk dengan jarum, bahkan setelah tusuk masih dibelok-belokkan, sakitnya terasa tapi badan saya tidak berdaya, saya diantara sadar dan tidak.

Samar-samar, sekeliling ranjang saya terlihat sudah penuh suster dan ada satu dokter, badannya tinggi besar dihadapan saya. Badan saya diguncang-guncang dari bahu sampai kaki oleh beberapa suster, ada yang meneriakkan di kuping saya bahwa saya tidak boleh tidur, harus bangun, harus bangun, pipi saya ditepuk-tepuk keras-keras kiri kanan, serasa terayun-ayun, semuanya jadi putih, begitu damai.., dingin.. tidur.. putih..

Suara orang demikian ramai, tapi terdengar jauh sekali, makin lama makin menghilang. Pikiran saya melayang jauh, mata saya mencari-cari … dimana ini, mana ya Yesus, janjiNya mau jemput… kok nggak datang-datang. Saya hanya melihat ada satu warna.. putih yang terang, putih yang dingin, putih yang damai...

“Bener, Dok” jawab saya, “kalau pendarahan pulihnya lama, dua bulan masih keleyengan.”

“Moga-moga kali ini lu nggak pendarahan ya,” katanya optimis.

Lalu dokter menulis resep, “Vitamin masih, Yen?”
“Abis.”

“Gua resepin Inbion aja ya, resepin lebih, soalnya nanti abis melahirkan lu banyak hilang darah, lu tetap minum ya buat tambah darah. Ngomong-ngomong, dulu ASI lu banyak nggak?”

“Nggak terlalu.”

“Kalau banyak, gua nanti sekalian kasih obat stop ASI, lu kan nanti nggak nyusuin.”

“Tiap kali ASI suka masalah. Yang pertama, sempat dibawa ke UGD, kejang-kejang, yang kedua panas tinggi. Macet salurannya.”

“Terus lu gimana?” tanya dokter, dahinya terangkat. “Pasien gua banyak kayak lu.”

“Di rumah ada alat yang kayak di tempat akupuntur, buat sinar, dadanya dipanasin, nanti ASInya bisa keluar sendiri, lancar. Kalau nggak mah keras banget, mau dipompa nggak bisa, diperas nggak bisa. Sakit banget.”

“Beli dimana alatnya, biar nanti rumah sakit sediain juga,” tanya dokter.

“Nggak tahu, kakak saya yang beli.”

“Boleh juga ya cara lu .. nanti gua kasih tahu pasien gua deh,” kata dokter gembira.

Saya sampai terheran-heran melihat dokter, padahal hanya sebuah ide sederhana.

Hari H

Hari yang ditunggu semakin dekat. Saya merapikan pekerjaan kantor dan bersiap-siap untuk cuti selama satu bulan, karena tidak ada babynya, tidak perlu cuti lama-lama.

Malam terakhir, kami bersama anak-anak mempersembahkan doa koronka untuk adik baby yang akan lahir. Anak-anak sudah kami persiapkan untuk berita kematian, dengan menceritakan bahwa saat mereka lahir kelilit tali pusar, tapi tidak terlalu kencang, masih bisa terlepas dan bernapas.

Tapi untuk adik baby, belum tahu apakah akan kelilit atau tidak. Untuk itu kami berdoa agar adik baby tidak kelilit. Saya berdoa sambil menahan sedih, hari ini akan menjadi hari terakhir baby bersama kakaknya.

Apakah juga akan menjadi malam terakhir bagi saya? Saya buru-buru mengenyahkan pikiran itu.

Setelah pesta hari Kerahiman Ilahi tanggal 30 Maret, baby tidak mau lahir juga, saya meminta Tuhan supaya bisa lahir tanggal 4 April, yaitu hari Jumat pertama, tahunya meleset juga. Terakhir saya meminta tanggal 16 April, masa meleset juga, pikir saya.

Tiap hari kami misa pagi dari jam 6.00 sampai sekitar 6.40, sehabis itu masih sempat antar anak-anak ke sekolah.

Sebelum ke gereja, saya menyempatkan novena Hati Kudus Yesus, ada kata-kata yang paling saya suka ‘kepada siapa saya berharap, kalau bukan kepada hatiMu… Yesus, buatlah yang hatiMu kehendaki.’

Romo Andreas pernah mengatakan kalau Yesus yang kita sembah bukan Yesus seperti di film-film Bollywood atau di sinetron-sinetron, dimana Yesus kita bentuk sesuai maunya kita, dimana Yesus yang terbalik melayani maunya kita.

Bukan juga Yesus yang superstar, yang ikut Yesus pasti sukses, pasti sehat, yang pasti-pasti, bukan semua, tapi Yesus yang selalu mengajak kita mengikutiNya memanggul salib kehidupan.

Betapa beratnya mengikuti Yesus, pikir saya.

Misa pagi hari itu, terbukalah hati saya yang selama ini sangat mengharapkan kesembuhan baby. Romo berkata, “Yesus ada dimana kehendakNya terjadi.”

Romo menutup misanya dengan berpesan mengutip kata-kata Martin Luther, “kalau kita berjumpa Yesus hari ini, hanya empat kalimat yang akan Dia katakan, I Love You, I Know You, I Understand You… terakhir… Do You Know Me? Saya mencintaimu, Saya mengenalmu, Saya mengertimu, apakah kamu mengenalKu?”

Air mata saya langsung menetes, maafkan saya, Yesus, saya meminta begitu banyak padahal saya tidak mengenalMu. Bagaimana Kau bisa berkarya di hati seperti ini? Saya meminta Kau menyembuhkan Ancillo, tapi kita seperti orang baru kenalan. Mulai hari ini, biarkan aku belajar mengenalMu dari awal lagi, tambahkanlah imanku.

Sejak saat itu saya berhenti mengharapkan mujijat kesembuhan, biarlah kehendakNya yang terjadi. Hati saya lebih tenang. Bukankan Tuhan tidak akan memberikan cobaan melebihi kekuatan kita? Romo menambahkan, “Percaya sungguh-sungguh pada Yesus dan terjadilah.”

Jam 8 pagi saya masuk kamar bersalin setelah mengisi formulir admin dan menyerahkan buku medik ke suster. Suster langsung menyiapkan CTG untuk memantau jantung baby dan kontraksi selama setengah jam, lalu mengambil darah dan menyiapkan infus induksi, juga menyiapkan sekantong darah untuk jaga-jaga. Suster juga memberikan obat mulas untuk cuci perut.

Suster konsultasi dengan dokter lewat telepon karena dokter sedang operasi caesar. Ternyata sudah bukaan 1. Tetesan induksi di infus elektronik hanya 4 ml.

Selesai operasi caesar, dokter memeriksa kondisi saya, lalu meminta suster untuk menyuntikkan pelunak rahim, karena mulut rahim masih sangat tebal, baby tidak ada penekanan.

Dokter menyarankan untuk menambah kantong darah menjadi dua kantong, satu kantong discreening, satu lagi tidak. Setelah satu jam tidak ada kemajuan pembukaan, dokter mengatakan saya akan dibalon. Saya yang masih bisa jalan sendiri pindah ke ruang tindakan.

“Gua buat lu nggak kesakitan,” dokter menghibur saya. “Sabar ya, sayang, memang nggak enak sedikit rasanya, tapi ini akan buat pembukaan ada kemajuan.”

Walaupun dokter hafal nama, tapi dia lebih sering memakai kata ‘sayang’ ke pasien dan suster.

Ada seorang berpakaian suster, sudah berumur, berambut panjang dan bertubuh kecil mungil, tugasnya membantu para suster mengambil obat ke apotik, mengambil hasil darah ke lab, dan menyiapkan alat-alat yang akan dipakai dokter. Ada satu lagi tugasnya, mencukur rambut bawah, para suster menyebutnya ‘cuplis’. Nama asisten para suster itu mbak Iyem.

Ketika hendak memasangkan balon, suster membantu dokter mengikatkan bajunya dari belakang, bajunya mirip baju anti peluru.

“Eiit… entar dulu,” kata dokter. “Mau betulin dasi. Nyangkut dikit, biar nggak kena ciprat darah.”

Lalu dokter menggulung lengan bajunya, memakai sarung tangan dan bersiap-siap untuk tindakan.

“Mbak Iyem, mau yang ini dong,” pinta dokter sambil menunjukkan alat yang dimaksud, “no.. (sekian)”

Lalu mbak Iyem mencarikan sana-sini, diantara tumpukan alat-alat yang bentuknya mirip-mirip. Setelah ketemu dia berikan ke dokter.

“Bukan yang ini, mbak Iyem,” kata dokter. “Ini kebesaran, ada yang kecilan lagi.”

Dokter dengan sabar menunggu mbak Iyem mencari lagi.

“Bukan yang ini juga, coba cari lagi, ini masih kebesaran.”

Lalu dokter menunggu lagi sambil bernyanyi lagu rohani. Tidak lama ada telpon masuk, dokter on-line lewat bluetooth hitamnya yang menempel di kuping. Habis on-line, bernyanyi-nyanyi lagi atau bercanda dengan suster.

“Yang ini?” tanya mbak Iyem ragu-ragu.

“Masih bukan, udah hampir betul.”

Mbak Iyem masih cari lagi, dokter menoleh berulang kali, masih menunggu, tidak terlihat bete sedikitpun.

“Ini, betul?” tanya mbak Iyem, takut salah lagi.

“Nah, ini dia!” serunya girang sekali, wajahnya langsung berseri-seri, seperti anak kecil menemukan harta karun mainan kesayangannya. “Mbak Iyem… mbak Iyem…, coba dari tadi ketemu, udah selesai nih pasang balonnya.”

“Udah ah, nggak usah mbak Iyem, mbak Iyem,” kata mbak Iyem sambil cemberut. ”Kerjain aja sana.”

Mbak Iyem masih berdiri di belakang dokter. Barangkali dokter perlu alat lain.

Dokter melongok ke mbak Iyem, nyengir, mengedipkan mata dan meledeknya, “Mbak Iyem, mbak Iyem…”

“Udah sana, kerja,” usir mbak Iyem sambil mengibas-ngibaskan tangannya.

Dokter tertawa senang, berhasil bikin orang kesal, mengulanginya, “mbak Iyem, mbak Iyem...”

Mbak Iyem makin cemberut.

“Coba dari tadi ketemu..,” ujar dokter sambil memasangkan balon, “udah beres nih sekarang.” Dokter menoleh lagi, senang sekali menggoda mbak Iyem yang semakin manyun. “Mbak Iyem, mbak Iyem...”

Mbak Iyem sudah tidak bisa marah. Dia mengacuhkan ketika dokter menggodanya terus. Dokter dicuekin. Percuma juga cemberutin, dokter tidak terasa.

Balon yang dimaksud ternyata karet yang panjang berwarna orange, mirip balon mainan anak-anak, diisi air sebanyak 50 ml, balon diikat simpul, lalu dimasukkan ke mulut rahim dan sebagian sisa karet balon tersebut berada di luar.

Memang tidak terasa sakit sama sekali.

“Mbak Iyem,” pinta dokter setelah selesai tindakan, “disimpan baik-baik alat ini, besok-besok saya mau pakai, udah nggak usah cari-cari lagi.”

“Iyooo..,” sahut mbak Iyem.

“Mbak Iyem, mbak Iyem…,” kata dokter sambil tertawa terbahak-bahak dan berjalan keluar.

Saya kembali ke tempat tidur, lalu suster mengikatkan tali di ujung karet balon yang berada di luar kemudian ujungnya digantungkan sebotol penuh infus sebagai pemberat.

Saya harus berbaring lurus, tidak boleh lagi miring-miring. Lalu ketika infus dijatuhkan ke ujung ranjang di ujung kaki, terasa ada tarikan di mulut rahim. Makin lama makin terasa. Sebotol infus itu menjadi pemberat pengganti kepala bayi yang tidak ada penekanan.

Dokter sempat menengok dan memberi semangat, “Sabar ya, sayang, kita coba balon ini dulu, biar bukaan lu nambah.”

Sebelum pergi, dokter berpesan ke suster untuk memberitahukan perkembangannya karena dia akan praktek.

Selama satu jam saya menahan sakit sedikit, sambil memikirkan apa yang bakal terjadi. Tiba-tiba balon kecil itu meluncur keluar dari mulut rahim, melesat ke tanah, ‘gubrak’ botol infus jatuh ke lantai.

Suster langsung datang. Beberapa bercak darah dimana-mana karena balon kecil itu meluncur diantara kaki dan jatuh ke lantai.

Dua orang suster membersihkan darah di tempat tidur, besi tempat tidur, dan mengganti seprei, seorang lagi langsung mengecek bukaan. Ternyata bukaan sudah bertambah jadi 3 cm. Suster langsung menelpon dokter memberi kabar.

Dokter mengatakan bagus ada kemajuan tapi biasanya prosesnya lebih lama dan ketika balon terlepas sudah ada di pembukaan 5.

Kembali saya diperbolehkan tidur miring-miring, karena rasanya memang lebih enak, tidak menekan tulang belakang. Suster memasang alat CTG, katanya dokter ingin tahu kontraksinya apakah ada kemajuan.

Kontraksi setiap empat menit, jantung baby bagus, lalu induksi ditambah jadi 12 tetes.

Jam 10 lewat, pembukaan naik ke 4. Kontraksi per tiga menit, tapi saya saya tidak merasakan sakitnya. Hampir tiap jam suster memeriksa pembukaan, tidak bertambah juga.

Jam 2 siang, setelah selesai praktek, dokter kembali visit. Dokter memeriksa kontraksi sudah per 2 menit, tapi baby masih jauh diatas, belum mau menekan jalan lahir. Rahim juga masih keras sehingga disuntikkan lagi pelunak rahim.

“Kontraksi lu udah bagus sekali, Yenny,” kata dokter “kalau keadaan normal, entar sore juga udah lahir. Tapi ini susah, belum tentu mau lahir hari ini. Masih tebal banget rahim lu, sabar ya, lu tidur-tiduran dulu aja, simpan tenaga.”

Lalu dokter terdiam sebentar, memperhatikan kontraksi. “Eh.. ini lagi kontraksi nih, kencang banget, lu berasa sakit nggak?”

“Nggak sakit sama sekali.”

“Berarti lu tahan sakit…,” katanya. “Sayangnya nggak ada balon ukuran 250 ml, kalau ada gua pasang balon lagi, biar bukaan nambah. Padahal, tapi pagi sudah bagus sekali, dari 1 langsung 3. Cakep banget deh bukaannya. Sekarang dia lambat lagi. Sabar ya, sayang, kita tungguin aja, nanti juga lahir.”

Lalu dokter memberi pengarahan ke suster sambil menerangkan anencephaly tidak terjadi penekanan dan tidak ada kontraksi yang bertambah untuk ibunya.

Dokter sempat bercandain satu suster yang sedang terkantuk-kantuk, dia menyanyikan lagu, “tidurlah, tidur, sayang, tidurlah yang nyenyak, matamu sudah lima watt, terkantuk-kantuk mau nutup…”

Suster dongkol, katanya, “Dokter, kalau kontrol ya kontrol aja, udah sana, nggak usah gangguin orang.”

Dokter tertawa, “Eh?? Lu ngomong kontrolnya pake r atau nggak.., woiii..ngantuk nih orang.”

Suster nyamber ngomong jorok, “kont**.”

Dokter langsung nyebut, “masya allah…”

Suasana jadi riuh dan riang, suster yang terkantuk-kantuk jadi segar lagi. Tiap kali dokter visit, suster-suter pada gembira karena dokternya riang, suka sekali nyanyi sambil mondar mandir. Kalau dokter lain visit, suster pada tegang dan tidak berani bertanya.

Selain itu ada juga dokter lain, masih muda, internis, suka bercanda juga. Suster menanyakan obat-obatan asma buat pasien yang baru aja pulang, pasiennya si ‘babe’, panggilan suster untuk Dr. Ronald. Dokter ini menjelaskan fungsinya untuk apa saja.

“Dok, masak badanmu gede gini, tapi tulisan kecil-kecil kayak semut. Tulisan bagus dikit dong biar kebaca,” protes suster.

“Eh, dimana-mana juga yang namanya dokter tulisannya jelek, memang sengaja, malah kalau tulisannya bagus, pasiennya yang protes. Sama aja kayak gini, kenapa rambut atas selalu lurus tapi rambut ‘bawah’ selalu keriting? Coba tebak, kenapa ?”

Saya senyum-senyum menguping mereka bercanda, ternyata dimana-mana sama aja, mau dokter, mau suster, bercandanya pada jorok.

Saya sempat bertanya ke suster yang sedang hamil juga, siapa nama dokter muda itu, karena bercandanya lucu. Lumayan buat hiburan, daripada bengong seharian di ruangan 2x2 dikelilingi tembok dan horden.

Saya menyebutnya ruang menunggu pembantaian. Jadi ingat Yesus, seperti domba yang hendak dibawa ke tempat pembantaian, sama-sama tidak berdaya, hanya bisa menunggu eksekusi.

“Dokter Yudistira,” jawab suster yang hamil itu.

“Yang badannya tinggi-gede, putih, matanya sipit, terus rambutnya berdiri?” tanya saya.

Suaranya sangat akrab di kuping saya. Teman SMA. Selama tiga tahun kami sekelas dan selalu duduk berdekatan. Pergi sekolah terkadang bareng, nebeng bajajnya, jalan kaki menyusuri sepanjang jalan toko tiga dan kemenangan, tiada hari tanpa berantem, ngambek, marahan, nggak ngomong lama, baikan, ribut lagi, baikan lagi, siapin contekan, contek-contekan ulangan, akurin pe-er, tendang-tendangan kursi, timpuk-timpukan kertas, penghapus, ngobrol, ngegosip, party, lab, karya wisata, karya tulis, living-in di kampung, retret, eks-kul, les, valentine dan pesta perpisahan.

Nostal-gila.

Gayanya masih sama seperti dulu, bandel-bawel- lucu-cuek, tipikal anak bontot. Mukanya juga tidak berubah sejak SMA. Tahunya sekarang sudah jadi internis.

“Iya betul, namanya dokter Yudistira,” jawab suster.

“Kok namanya bukan Him Fong, ya? Waktu SMA namanya gitu.”

“Yang praktek di Rs Atmajaya juga kan ? Tinggalnya di sekitar bandengan, kalau nggak salah?” tanya suster.

“Iya,” jawab saya. Malahan setiap keluar rumah lewatin jalan Bandengan musti lewat rumahnya, tambah saya dalam hati.

Beberapa kali bertemu di rumah sakit ini, tapi dia tidak pernah bilang sudah ganti nama, pantesan saya mengecek di papan praktek dokter, namanya tidak ada.

Saya sebenarnya pengen sekali bertanya suster apa dia sudah married, apa sudah punya anak juga, tapi tidak jadi bertanya karena terbayang waktu ketemuan terakhir.

Malam itu di luar hujan lebat, Francis sudah lima hari demam. Kami akan mengambil hasil labnya, kemungkinan typhus. Jc menunggu print-out hasil lab tapi suster anak, Dr. Stephanus, sudah memanggil gilirannya. Saya jalan duluan sambil menggandeng kedua anak saya, satu di kiri, satu di kanan, plus di tengah perut buncit delapan bulanan. Saya tidak menyadari kalau dia sudah berdiri di hadapan saya. Rupanya dia sengaja menunggu saya lewat untuk meledek. “Lu hamil lagi neh? Heran.., doyan banget hamil!” katanya sambil tersenyum nakal lalu ngeloyor pergi.

Ampunnnn deh, minta dijitak, tidak berubah, tidak ada basa-basi!

Saya menceritakan ke Jc, kok sudah jadi dokter masih aja begitu, beda banget ama Dr Ronny.

”Iya, kan nggak semua kayak dokter lu,” jawab Jc, “yang ramah, yang ngomongnya juga enak. Banyak lagi yang lebih suka ama dokter yang nggak pakai basa-basi, to the point, biar cepat beres.”

O, kalau cowok mikirnya gitu, yang praktis aja.

Suster hamil berkata, “Ibu enak ya, hamilnya kecil, nggak seperti saya, baru hamil tujuh bulan udah gede banget, udah berat.”

Saya tertawa. “Nanti suster kalo udah mau ngelahirin, pasti udah jago. Bisa periksa dalam sendiri,” saya meledeknya.

Lumayan deh, dari pagi sampai sore ini, sudah lebih sepuluh kali diperiksa dalam. Untungnya, dasar orang Jawa.., ini sudah anak ketiga, sudah tidak rasa sakit lagi, cuma malas aja rasanya.

“Suster pakai dokter siapa?” tanya saya.

“Kita sama. Pakai dokter Tjien,” kata suster itu kedengarannya bangga.

Saya jadi mengerti, suster di kamar bersalin yang sehari-hari bersama para dokter, mengenal dokter lebih dekat, bisa memilih dokter mana yang terbaik untuk dirinya sendiri. Beruntung saya tidak salah pilih dokter, pikir saya.

Di kamar bersalin, orang datang dan pergi. Ada yang cemas karena sudah kontraksi padahal baru 30 minggu, jadi ke kamar ini untuk CTG lalu pulang, ada juga yang sesak napas, asmanya kambuh, diberi oksigen dan obat-obat pereda asma, sebentar juga pulang, ada yang minta disteril, bahkan ada seorang ibu dengan anak tiga yang sudah remaja minta divagina-plastis… Wuah.

Saya juga mendengarkan pembicaraan para suster. Hampir semua bercita-cita jadi bidan dan punya praktek sendiri. Di luaran banyak bidan yang belum punya sertifikat tapi nekat buka praktek. Soalnya gaji di rumah sakit ini terbilang kecil dan kalau jadi bidan bisa menambah penghasilan sampai lima jutaan, jadi mereka pada mencari sertifikat untuk bisa buka praktek sendiri.

Bagi saya yang sedari kecil hidup di kota dan cukup mampu bayar rumah sakit, rasanya ngeri kalau harus melahirkan di bidan. Di sini, para suster tidak lebih dari asisten dokter, membantu menyiapkan alat-alat, mencatat obat, dan berada di sisi dokter dan melihat apa yang dokter kerjakan. Tapi tidak untuk praktek langsung menolong kelahiran.

Bila ada yang bisa memberi lebih, kenapa tidak dicoba.

Jc tidak bisa terus-menerus berada di kamar bersalin, disamping itu tidak disediakan kursi untuk duduk, sehingga dia seringnya duduk di lantai, mojok, dibawah selang infus, itupun bingung karena kakinya panjang, duduknya serba salah.

Jc menunggu saya sambil membaca koran. Dia baca terus sampai berita tidak penting juga habis dibaca. Selain itu dia searching berita di internet lewat Hp. Seharian Hp itu tidak lepas dari tangannya dan bolak-balik dicharge.

Seringnya sinyal 3G terputus, mungkin karena ruangan ini mojok dan dikelilingi tembok.

Saya bilang ke Jc, sini saya SMS ke company tempat saya bekerja, menginformasikan bahwa sinyalnya 3G putus-putus. Tapi Jc melarang, jangan kasih tahu company, nanti kalau sinyalnya diperkuat, kasihan baby-baby di kamar sebelah, masih baby udah terkena radiasi. Segini udah cukup, yang penting bisa buat nelpon.

Saya meminta Jc daripada bengong menunggu koneksi internet, mendingan bantu doa koronka. Dia cuma nyengir aja, cuma mau satu kali koronka waktu jam tiga siang, jam Yesus wafat.

Pernah juga Jc kepergok suster saat dia lagi duduk di ranjang dekat kaki saya, suster memberitahukan bahwa ranjangnya tidak boleh diduduki, bebannya bukan untuk dua orang.

Suster sering mengingatkannya untuk menunggu di luar sambil nonton tv, biar bisa lebih santai, karena suster sedikit-dikit memeriksa saya atau tetangga sebelah, belum lagi saat saya bolak-balik ke toilet pasti dibantu suster untuk me-nonaktifkan infus elektronik.

Jc tetap bandel, dia bolak-balik menemani saya, setiap nongol ke kamar bersalin sering diingatkan suster untuk buka sandal atau untuk pakai jubah biru.

Saya menunggu sambil tiduran dan koronka, entah sudah berapa putaran, kadang pikiran dan koronka jalan sendiri-sendiri. Tidak ada yang bisa saya lakukan, selain menunggu. Rasanya seperti berada di sakratulmaut, dimana hanya bisa dilewati sendirian.

Walaupun Jc berada disisi saya, memberikan rasa aman dan tenang, tapi tidak mengurangi rasa sakit atau mengurangi rasa cemas harus menjalaninya sendiri.

Saya juga berdoa untuk baby, menikmati saat-saat terakhir bersamanya, merasakan gerakannya diantara kontraksi yang tidak pernah lagi reda.

Saya tidak bisa tidur walaupun lampu sudah dimatikan oleh suster agar saya bisa beristirahat. Suara suster, ketegangan menunggu, suara tetangga, membuat waktu rasanya berjalan lambat sekali.

Jc membisikkan saya bahwa tetangga sebelah saya, pasangan muda dengan anak pertamanya, akan melakukan aborsi. Babynya berumur 15 minggu, terinfeksi rubella. Jc sempat bertukar cerita dengan suaminya di ruang tunggu. Awalnya mereka pakai Dr Ronny tapi dokter tidak kasih aborsi malah meminta mereka untuk mempertahankan baby ini. Tapi mereka tidak mau baby yang cacat., mungkin saat lahir tidak cacat, tapi kemungkinan cacatnya muncul tiba-tiba di umur 2 – 3 tahun, kasihan kalau anak harus hidup dengan kecacatan, kata suami itu.

Dokter Ronny tidak mau memberi rekomendasi ke dokter mana, sehingga mereka kelimpungan cari dokter sana-sini, yang mau melakukan absorsi.

Baby 15 minggu… hanya beda 2 minggu dari Ancillo sewaktu dokter menvonisnya cacat, di umur 17 minggu. Saat itu semua anggota tubuhnya sudah lengkap, sudah berbentuk manusia yang sempurna, tidak berhenti menendang dan meninju, jungkil balik di perut. Mukanya juga sudah terlihat mata, hidung, telinga bahkan bibirnya sudah bisa tersenyum.

Seharian saya memang sempat mendengar pembicaraan mereka, bahwa istrinya ketepa campak, cacar jerman, dari keponakannya. Setelah sembuh, dua bulan kemudian istrinya hamil. Otomatis virus masih ada di tubuh istrinya dan dari lab cek darah ketahuan terinfeksi rubella.

Beberapa sanak saudara menelpon menanyakan kenapa diaborsi tapi mereka menceritakan dengan tenang, keputusan mereka sudah bulat. Tidak ada satu pun dari penelpon yang menghalangi aborsi ini. Mereka malah saling bertukar cerita, di bulan berapa aborsi, berapa lama dirumah sakit, berapa biayanya. Dokter bilang chance cacat 75:25. Dokter lain juga mengatakaan chancenya memang sekitar segitu.

Suami sempat marah berkali-kali ke suster kenapa istrinya harus lama diinduksi, kenapa orang lain bisa cepat pulang, kenapa dokter bilang bisa langsung pulang, pulang hari. Kemana dokter, kenapa sudah seharian tidak visit juga. Kenapa dokter tidak kasih penjelasan lebih rinci.

Suster menjelaskan dengan sabar bahwa tiap orang lain-lain, ada yang cepat pembukaannya, ada yang lambat, selain itu jalan lahir tidak bisa buka dengan cepat karena baby masih kecil. Berbeda dengan baby yang sudah siap lahir, baby sudah besar dan berat sehingga bisa cepat bukaan dan jalan lahir memang sudah alami dipersiapkan, mulut rahim pun sudah lunak. Bapak musti sabar, kasihan istrinya kalau bapaknya tidak sabar.

“Iya, saya marah-marah karena kasihan lihat istri saya, seharian dia kesakitan,” kata suami itu dengan nada tinggi. “Sekarang mulai panas badannya. Udah kasih tahu dokter belum, istri saya panas?”

“Saya ngerti, bapak sabar ya, tadi dokter sudah instruksi obat buat turunin panasnya. Ini sudah maksimal induksinya. Dimana-mana pasti sakit, kalau nggak sakit, nggak mulas, nggak kontraksi, nggak akan ada bukaan, bagaimana baby bisa lahir, memang begitulah jalannya. Sekarang bapak tinggal dulu istri bapak, biar dia tidur, istirahat, perjalanan masih panjang, ini seharian baru bukaan 1. Biasanya sampai bukaan 10, tapi karena ini babynya kecil, nggak perlu sampe 10 udah bisa lahir. Kita tunggu aja ya, dokter sebentar lagi kemari.”

“Kenapa sih harus di induksi segala, nggak bisa langsung kuret aja?” tanya suami itu masih dengan nada marah-marah.

“Kuret kalau babynya masih kecil sekali. Lha, ini kan sudah 3 bulan lebih, sudah lengkap semua, sudah sedikit besar, menempelnya juga sudah kuat, memang prosesnya seperti melahirkan normal, musti ada pembukaan dulu.”

Istri mulai demam. Sesekali terdengar rintihan kesakitan diantara isak-tangisnya.

Saya hanya bisa berdoa, semoga istri tambah demam sehingga aborsi bisa ditunda atau batal sekalian.

Terdengar istri menangis dan mengeluh perut bawahnya sakit dan mulas sekali. Pasti dia juga tidak ingin kehilangan babynya. Ada satu baby lagi yang berada di sakratulmaut, karena orangtuanya takut cacat. Saya mendoakan koronka untuk baby ini, saya memberi dia nama Ruben, walaupun saya tidak yakin doa saya ini dapat membatalkan rencana aborsi mereka, paling tidak saya berdoa untuk Ruben di saat menjelang kematiannya. Saya berkata, Tuhan beri saya kekuatan untuk bilang jangan diaborsi. Tapi Tuhan membisu, membiarkan semuanya terjadi.

Perlahan saya menyibak horden pembatas, tiba-tiba saya berkata, “babynya dilahirkan saja. Kalau kamu takut dia cacat, babynya buat saya saja.”

Saya sendiri kaget, kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut saya. Saya yang menginginkan baby, malah cacat dan pasti meninggal, mereka yang ada chance baby normal, malah ingin melenyapkannya. Tidak adil.

Suaminya menjawab, “kita juga berdua sayang anak-anak, tapi kasihan kalau dia cacat, lebih baik dari kecil kita aborsi. Kita nggak nyangka dia kena rubella. Dokter bilang dia 75% cacat.”

“Teman kantor saya ada beberapa yang rubella juga tapi babynya nggak masalah, normal-normal aja, malah sekarang sudah TK,” jawab saya, jantung saya berdetak sangat kencang.

“Iya, kalau normal.. kalau cacat, kita kan nggak tahu?” kata suami.

“Makanya saya bilang, buat saya saja, biarkan dia lahir. Baby saya juga cacat, dia nggak akan hidup, kalau boleh.. , baby itu boleh untuk saya?”

Andaikan boleh, terpikir oleh saya, dia akan jadi baby yang membawa luka batin sejak dalam kandungan, tapi luka bisa sembuh kalau ada yang menyayanginya.

Suami itu hanya nyengir. “Kita senasib dong. Putusan kita sudah bulat kok.”

Senasib? pikir saya dalam hati, sambil membalikkan badan. Senasib hanya karena bayi-bayi ini akan meninggal segera.

Tiba-tiba kesedihan yang mendalam menghampiri saya. Begitu mudah manusia membunuh babynya, padahal masih ada chance untuk normal. Saya jadi mengerti kenapa sampai sekarang patung Maria sering menangis, bahkan sampai mengeluarkan air mata darah, pasti karena Maria sangat sedih. Dia yang begitu mencintai bayi-bayi sejak mereka dalam kandungan, merasakan sakitnya baby dicabik-cabik, dibuang oleh kedua orang tuanya, dibunuh oleh orang dewasa.

Saya lalu rosario, menghibur Maria dan meminta maaf saya tidak mampu mencegah apapun untuk baby itu, mulut ini tidak pernah dilatih untuk berkata-kata mengenai Tuhan.

Saat Jc masuk, dia bingung melihat saya menangis. “Kenapa, kenapa?” tanyanya cemas.

“Nggak.., cuma mau pilek,” jawab saya berbohong.

Jc tidak bertanya lagi. Dia cuma berdiri di samping saya, memandang saya, mungkin dia berpikir saya sedang babyblue. Kalau saya cerita, pasti saya diomelin Jc karena ikut campur urusan orang lain.

Hari semakin larut, jam 9 malam belum ada kemajuan, masih tetap bukaan 4. Dokter menelpon tiap jam, sepertinya dia juga cemas, bagaimana kalau baby tidak bisa lahir juga.

Suster juga mulai cemas, mulai membicarakan dokter. “Kenapa sih dokter nggak caesar aja, kan ibunya kasihan, kecapean kalau kelamaan gini.”

“Stt…,” seorang suster mengingatkan untuk memperkecil volume suara. “Ini nggak bisa dicaesar atau pakai epidural, ibunya punya riwayat HPP, pendarahan waktu melahirkan anak kedua. Makanya dokter hati-hati sekali.”

“Kadang nggak abis pikir ama dokter,” sahut seorang suster, “di satu sisi dia religius banget, di satu sisi kadang caranya sulit diterima..”

Saya bingung, apa hubungannya religius dengan caesar ya. Mungkin cuma dia lahir. Baby saya juga cacat, dia nggak akan hidup, kalau boleh.. , baby itu boleh untuk saya?”

Andaikan boleh, terpikir oleh saya, dia akan jadi baby yang membawa luka batin sejak dalam kandungan, tapi luka bisa sembuh kalau ada yang menyayanginya.

Suami itu hanya nyengir. “Kita senasib dong. Putusan kita sudah bulat kok.”

Senasib? pikir saya dalam hati, sambil membalikkan badan. Senasib hanya karena bayi-bayi ini akan meninggal segera.

Tiba-tiba kesedihan yang mendalam menghampiri saya. Begitu mudah manusia membunuh babynya, padahal masih ada chance untuk normal. Saya jadi mengerti kenapa sampai sekarang patung Maria sering menangis, bahkan sampai mengeluarkan air mata darah, pasti karena Maria sangat sedih. Dia yang begitu mencintai bayi-bayi sejak mereka dalam kandungan, merasakan sakitnya baby dicabik-cabik, dibuang oleh kedua orang tuanya, dibunuh oleh orang dewasa.

Saya lalu rosario, menghibur Maria dan meminta maaf saya tidak mampu mencegah apapun untuk baby itu, mulut ini tidak pernah dilatih untuk berkata-kata mengenai Tuhan.

Saat Jc masuk, dia bingung melihat saya menangis. “Kenapa, kenapa?” tanyanya cemas.

“Nggak.., cuma mau pilek,” jawab saya berbohong.

Jc tidak bertanya lagi. Dia cuma berdiri di samping saya, memandang saya, mungkin dia berpikir saya sedang babyblue. Kalau saya cerita, pasti saya diomelin Jc karena ikut campur urusan orang lain.

Hari semakin larut, jam 9 malam belum ada kemajuan, masih tetap bukaan 4. Dokter menelpon tiap jam, sepertinya dia juga cemas, bagaimana kalau baby tidak bisa lahir juga.

Suster juga mulai cemas, mulai membicarakan dokter. “Kenapa sih dokter nggak caesar aja, kan ibunya kasihan, kecapean kalau kelamaan gini.”

“Stt…,” seorang suster mengingatkan untuk memperkecil volume suara. “Ini nggak bisa dicaesar atau pakai epidural, ibunya punya riwayat HPP, pendarahan waktu melahirkan anak kedua. Makanya dokter hati-hati sekali.”

“Kadang nggak abis pikir ama dokter,” sahut seorang suster, “di satu sisi dia religius banget, di satu sisi kadang caranya sulit diterima..”

Saya bingung, apa hubungannya religius dengan caesar ya. Mungkin cuma obrolan biasa, kan suster yang mengenal dokternya.

Tiba-tiba terdengar bunyi telpon, suster menanyakan ke pasien yang baru saja selesai kontrol sudah bukaan berapa. Apakah sudah mulas-mulas? Si ibu menjawab belum bukaan dan belum mulas. Tapi dia yakin akan melahirkan malam ini.

Suster menyarankannya ke kamar bersalin untuk di CTG. Si ibu datang, seorang yang cerewet tapi riang gembira. Lalu si ibu langsung di CTG sambil terus mengobrol. Saat itu belum ada bukaan. Suster bertanya kenapa dia begitu yakin akan melahirkan malam ini juga.

Si ibu menjawab karena anak pertamanya enam jam sudah lahir, ini anak kedua pasti lebih cepat, gejalanya sama, ada kontraksi sebentar-sebentar.

Setelah setengah jam CTG, suster memeriksa lagi, sudah pembukaan 3!

Mereka tertawa, wah benar juga ibu ini, malam ini bisa lahir kalau bukaannya loncat, kata para suster. Merekapun bercanda sambil suster mengisi form administrasi menanyakan umur ibu, suami, anak pertama dll.

Tak lama, seorang dokter menelpon, menanyakan apakah pasiennya sudah sampai ke kamar bersalin. Dokter mengatakan dia sudah selesai praktek dan akan segera pulang.

“Jangan pulang dulu ya, Dok,” kata suster, “sepertinya akan lahir malam ini juga. Tunggu tiga menit ya, mau periksa dalam lagi.”

Buru-buru suster memeriksa lagi, sudah bukaan 7!

Si ibu masih mengobrol kadang tawanya tertahan saat mulas datang. Suaminya menyusul, membawakan guling bayi kesayangannya, katanya istrinya tidak bisa tidur kalau tidak ada guling tersebut.

Saya tersenyum, lucu, seperti Vincent, sudah umur enam tahun tapi masih tidur dengan guling bayinya.

Suster menelpon dokter, “Dok, masih di ruangan atau di parkiran? Ayo balik, Dok, udah bukaan 7. Udah mau lahir.”

Tidak sampai lima menit dokter muncul, menyapa semua suster dan menanyakan apakah mereka mau makan sate. Semua setuju dan pesan 50 tusuk sate, 10 sate untuk dokter tidak pakai cabai dan lontong.

Dokter bilang, tadinya dia mau makan seafood di Muara Karang. Sementara itu, dokter mengobrol dengan suaminya yang pengusaha alat-alat salon.

Selagi asyik mengobrol, sate baru dipesan, suster laporan lagi kalau bukaan sudah lengkap, pasien sudah di kamar tindakan.

Dokter bilang enak kalau pasien kayak begini semua, katanya ke suami. Suaminya segera keluar, tidak berani menemani istri, takut pingsan.

Lalu terdengar suster mulai ramai memberi semangat, hayo ibu, kepalanya sudah keliatan, rambutnya banyak.

Ibu itu terdengar mengedan 2-3 kali, tidak terdengar suara tangisan atau teriakan, hanya usaha kerasnya. Lalu perlahan kepala bayi keluar, lalu suster memberi semangat sekali lagi untuk ngedan yang kuat, untuk keluarkan bahu baby.

Tak lama terdengar baby menangis keras. Ibu itu pun tertawa riang gembira, enak, lega, sudah berlalu sakitnya.

Baby laki-laki, berat 3,2 kilo, panjang 50 cm. Berlari-lari suster memanggil suaminya, memberitakan kelahiran anak kedua. Lalu terdengar suster sibuk membersihkan bayi, suara tangisnya keras sekali, suster juga menelpon dokter anak, mencari dokter yang masih stand-by malam itu sekitar jam 10 malam.

Tak lama, suami dan dokter mengobrol lagi sambil menunggu sate yang belum juga dianter ke kamar. Suami sudah mendapat kamar di VIP. Istri bilang mau menunggu di kamar aja, lebih enak, nanti kalau perlu apa-apa mereka akan panggil suster.

Biasanya pasien ditahan dua jam untuk pemulihan. Dokter mengijinkan. Keluarga besar sudah berkumpul di luar, memberi selamat untuk kelahiran baby.

Saya ikut lega, menyenangkan sekali kalau bisa menggendong baby sekali lagi, mendengarkan suara tangisannya yang keras atau merintih-rintih atau melihatnya tertidur seperti malaikat. Apakah saya juga punya kekuatan menahan sakit seperti ibu itu, tidak berteriak sekalipun saat melahirkan, apakah akan datang saatnya, dimana saya harus maju sudah gilirannya.

Jc menunggu di kamar 209 yang sudah dipesan dari pagi. Kamar itu kosong seharian. Dia stand-by disana. Mungkin tidur-tiduran.

Mama saya ngotot mau ikut bermalam di rumah sakit, dia begitu takut saya akan kenapa-kenapa. Bayang-bayang pendarahan seakan mengatakan saya akan mati saat melahirkan kali ini. Saat pendarahan yang lalu, mama saya mengatakan wajah saya sepucat mayat.

Saya sendiri juga bertanya-tanya, apakah hari ini adalah hidup saya yang terakhir. Kalau memang terakhir, saya musti bagaimana. Dua bocah menunggu di rumah. Mereka sangat menantikan saya kembali dengan membawa adik baby yang ditunggu-tunggu. Saya punya keyakinan, pada akhirnya tiap manusia harus menghadapi kematian seorang diri, anggap aja proses melahirkan ini latihan menghadapi kematian. Yesus sendiri berjanji akan berada di sisi orang-orang yang percaya padaNya, untuk menjemputNya. Saya sama sekali tidak takut menghadapinya mungkin karena tidak ada jalan lain.

Suami tetangga juga diperbolehkan pulang, agar istri bisa istirahat. Istrinya tidak mengijinkannya, meminta supaya suaminya menunggu di luar aja, tidur di kursi. Tapi suami malah kesenangan diperbolehkan pulang, dia bertanya ke suster, “kalau istri saya kenapa-kenapa, saya pasti ditelpon, kan?”

“Iya, pasti dong,” jawab suster. “Kan sudah ninggalin no Hp, nomer rumah, pasti ditelpon, nggak usah takut.”

“Tuh, suster aja bilang boleh pulang. Besok gua datang lagi ya, Sayang.”

“Jam 7 pagi bapak sudah harus disini,” suster mengingatkan.

“Kok pagi sekali, Sus? Jam 10 aja ya? Saya bangunnya siang, mana bisa bangun pagi-pagi?” tawar suami.

“Bapak,” suara suster hampir habis sabar, “istri bapak sedang berjuang disini, bapak kalau sayang sama istri bapak, jam 7 sudah disini.”

“Iya deh, kalo bangun,” sahutnya tidak sabar bergegas pergi.

“Pokoknya musti bisa bangun, aku miss-call terus,” kata istri sambil menangis.

Jam 10 malam dokter menelpon suster lagi, menanyakan pembukaan saya. Suster bilang masih sama. Lalu dokter berpesan agar induksi saya distop dulu, ganti infus biasa. Saya diistirahatkan dulu, kalau dipaksa lagi bisa pendarahan. Lalu saya disuruh balik ke kamar biasa, supaya bisa istirahat yang tenang karena kalau di ruang bersalin tidak bisa istirahat, banyak kejadian disini. Besok pagi jam 7 mulai lagi berjuang.

Saya hanya bisa bilang, Tuhan, sudah dong bercandanya. Saya set tiga tanggal, semuanya meleset. Hari ini meleset juga, padahal pas hari St. Bernadeth.

Akhirnya saya kembali ke kamar untuk istirahat. Hampir sama seperti saat melahirkan Vincent dulu, seharian di kamar bersalin, balik ke kamar lalu seharian lagi di kamar bersalin. Vincent lahir sedikit kepagian, umur 37 minggu karena pecah ketuban, jadi dokter menahannya dua hari untuk mematangkan paru-parunya.

Mama dan adik saya lalu pulang, tidak jadi bermalam. Setelah mengobrol selama satu-dua jam dengan Jc, saya pun tertidur, sebentar-sebentar terjaga. Kiranya waktu bersama baby tinggal sesaat lagi, semakin pendek. Saya benar-benar menikmati saat-saat bersamanya, walaupun tidak dapat saya membayangkan wajahnya, wujudnya, tapi lewat tendangannya, gerakannya, dia telah setia menemani saya berbulan-bulan. Kami melewati suka dan duka bersama-sama seperti teman sehati.

Kami suka bercakap-cakap dalam doa, dia selalu bangun, seakan bilang, saya menemani mama. Ranjang saya pun basah dengan air mata.

Pikiran saya melayang. Sudah sejauh ini saya berjalan, sudah sembilan bulan lebih… waktu yang tiba-tiba terasa begitu singkat. Sayang sekali rasanya sudah mengandungnya sekian lama, tapi baby tidak bisa dibawa pulang. Saya sampai tidak bisa bernapas lagi karena hidung berair, seperti pilek yang sangat berat sehingga harus bernapas dengan mulut.

Jam 5 pagi, dua orang suster datang untuk tensi, saya hanya memberi tangan saya untuk tensi dan tidak melihat suster tersebut. Saya menyembunyikan wajah saya yang pasti sembab. Tensi normal, lalu suster yang satu lagi mendopler jantung baby, stabil.

Lalu saya sarapan dan bersiap-siap karena suster sebentar lagi akan menjemput.

Belum jam 7 suster sudah datang dengan kursi roda, membawa saya kembali ke kamar bersalin di lantai yang sama.

Suster yang tadi malam masih sama, menyapa saya dengan ramah. “Bisa tidur? Hayo kita berjuang lagi ya, moga-moga hari ini bisa lahir.”

Saya membalas senyumnya, pasrah. Suster memeriksa pembukaan, masih 4, dan dopler bagus. Suster mengganti infus biasa dengan infus induksi.

Sepagian para suster ramai sekali, semuanya terdengar ceria, rupanya jam pergantian shift. Pasiennya juga hanya saya dan tetangga. Bukaannya sudah mencapai 3, sudah tidak panas lagi. Saya mendengarnya sedang menangis.

Terdengar suster mengobrol. “Kemarin malam Dr. Tjien praktek sampai jam berapa?”

“Tengah malem deh,” jawab seorang suster.

“Yee…tepatnya jam berapa dong?” suster lain menimbrung.

“Jam setengah satu, pasien terakhir,” jawabnya santai.

“Masa sih?” potong seorang suster. “Padahal jam 6 kurang, saya nelpon untuk bangunin dia, operasinya dimajuin jam 6.30 karena dokter anak bisanya lebih pagi. Eh begitu saya mau ganti baju dinas di ruang prakteknya, jam 6, dia sudah duduk di kursinya, senyum-senyum, seger banget, seneng dia bisa ngangetin orang. Saya sampai loncat saking kagetnya.”

Semua suster tertawa. “Apa dia nggak tidur ya? Dia itu orang atau bukan sih? Kok kuat banget, nggak ada capenya.”

Obrolan pagi yang menyegarkan.

Tidak lama suster menghampiri saya, “Ibu, saya periksa dalam dulu ya.”

“Lha, barusan udah. Masih sama, 4,” kata saya sedikit protes.

“Ini pergantian shift, jadi harus ada serah terima.”

Ampun, pikir saya dalam hati, mau gimana lagi. Setelah periksa, suster suster bilang sebentar lagi dokter visit, jadi boleh istirahat lagi, simpan tenaga dulu.

Terdengar di kamar tetangga, istri berkata ke suaminya, “gua mau pulang aja. Daripada gua dan baby kesakitan, mending nanti aja pas sembilan bulan, sakitnya sama.” istri makin keras menangisnya, gelisih sekali.

Suaminya malah membentaknya. “Terserah lu deh. Dulu, siapa yang bilang mau aborsi? Lu berani tanggung akibatnya? Lu mau kita berdua susah? Gua sih nggak mau. Udah deh, nggak perlu nangis-nangis gitu. Lu kalau mau pulang, ayo pulang sekarang. Nggak usah tunggu dokter, kita langsung bilang suster mau pulang sekarang juga.”

“Gua bingung…,” kata istri perlahan, tangisnya makin kencang.

“Nggak usah bingung-bingung,” kata suami tambah marah.

“Gimana dong? Perut gua sakit sekali. Gua nggak tahan lagi kalau harus tunggu bukaan lagi. Gua mau pulang… mau pulang…pokoknya mau pulang..”

“Sus!” teriak suami dari dalam kamar tidak sabar. “Sekarang gimana? Istri saya mau sampai kapan ditahan disini? Kasih saya penjelasan dong. Mau tunggu sampai bukaan berapa ? Dokter mana, pagi ini visit jam berapa?”

Di depan semua suster membisu, suasana tegang. Tidak lama ada seorang suster menghampiri suami itu. “Bapak sabar ya, sebentar lagi dokter visit, tadi sudah nelpon.”

Lalu suster itu buru-buru keluar lagi, tidak berani berlama-lama di hadapannya.

Dalam hati saya bilang, jangan aborsi, jangan aborsi, ayo masih keburu, ayo fight. Sepertinya istri mulai berubah pikiran untuk mempertahankan babynya.

Tidak lama terdengar dokternya datang.

Akhirnya saya menemukan jawaban atas pertanyaan saya selama ini. Saya ingin sekali menanyakan ke Dr. Ronny, sekiranya waktu itu saya mau aborsi, dokter siapa yang akan dia rekomen. Tapi saya tidak berani bertanya, mungkin juga selamanya dokter tidak mau menjawab. Dokter mana yang hati nuraninya sudah tidak peka lagi. Soalnya dari semua dokter di rumah sakit ini, semuanya saya pernah lihat. Karisma dokter selalu membuat saya terpesona.

Suara dokter itu sangat familiar di kuping saya. Vincent diplanning olehnya tujuh tahun lalu. Juga, sehari sebelum Francis lahir, saya sempat kontrol ke dia karena dokter Yani sedang cuti panjang. Kenapa hari ini suaranya terdengar begitu dingin. Saya menggigil. Saya menarik selimut tebal menutupi leher. Saat eksekusi semakin dekat.

Kemarin siang saat dari toilet, saya sempat bertatapan dengan dokter ini, jaraknya berdiri kira-kira lima meter dari saya.

Saya berada di ruang tindakan di pojok kanan sedangkan dia berdiri di tengah-tengah ruangan. Auranya menyebar ke seluruh ruangan.

Kaki saya langsung berhenti melangkah. Berdiri tak bergeming di sana. Kenapa tampangnya begitu gelap? Kenapa saya ketakutan melihat dia?

Begitu dokter melihat saya, dokter langsung memanggil suster, suaranya penuh wibawa, “Suster, itu ada pasien, kenapa dibiarkan sendirian ke toilet? Bawa-bawa infus lagi.”

Seorang suster berlari tergopoh-gopoh menghampiri saya, mengambil alih botol infus yang saya pegang, membantu memegang belakang baju saya yang sedikit terbuka, menggandeng sebelah tangan saya. Barulah saya berani melangkah.

Saya gemetar melewati dokter, was-was. Matanya yang tajam menatap saya, mengikuti langkah saya. Semoga dia tidak ingat saya pernah jadi pasiennya, kata saya dalam hati.

Dokter memeriksa pembukaan. “Oke,” kata dokter singkat. “Bukaan 3. Cukup. Pindah ke kamar tindakan,” suaranya seakan memerintah para suster.

“Sebentar lagi kuret,” kata dokter pada suami. “Sekarang lagi disiapin alatnya.”

“Pagi ini juga, Dok?” tanya suami antusias. “Berarti siang ini boleh pulang?” tanyanya lagi, penuh harap. Penantian panjangnya segera berakhir.

“Iya. Siang ini boleh pulang,” jawab dokter pendek, seperti enggan berbicara, harus melakukan sesuatu yang sama sekali tidak disukainya, tapi terpaksa harus tetap dilakukannya juga. Harus ada satu orang, untuk mengeksekusi tindakan ini. Dengan demikian, roda rumah sakit ini dapat terus berputar.

Lalu suster menghantar suami itu sampai ke pintu keluar, katanya, “bapak tunggu di depan sampai selesai tindakan ya, jangan jauh-jauh, jangan keman-mana.”

Suster tendengar menyiapkan peralatan, suara besi-besi kecil beradu, ada juga suara suster berlari-lari mencari alat yang biasa dipakai dokter ini, terdengar suaranya cemas, siapa sih yang pinjam alat si dokter dan tidak mengembalikannya di tempat semula. Sebelum kena marah dokter, alat itu harus sudah ketemu.

Suasana tegang.

Istri terdengar melangkah lunglai, perlahan memasuki kamar tindakan, masih terdengar isak tangisannya tertahan. Kenapa waktu tidak dapat berhenti atau diputar mundur, kembali ke masa pacaran yang indah.

Sapu tangan tebal yang sejak semalam menutup dahinya supaya tidak silau terpapar sinar lampu yang berada tepat diatas kepalanya, sempat juga buat kompres saat panas tinggi, digenggamnya erat-erat, terasa setengah basah, sudah buat lap airmata dan ingus, terlihat lusuh, jadi saksi bisunya.

Saya hanya bisa berdiam diri, bersembunyi di balik horden abu-abu tebal yang tinggi, tertutup rapat hingga tidak ada celah sedikitpun untuk mengintip, semua begitu mencekam.

Saya menangis diam-diam. Perih sekali rasanya. Jangan dibuang.., jangan dibunuh.. Namun, seberapa kuat saya berteriak dalam hati, mulut ini terkunci rapat. Siapa berani bersuara di saat begini?

Air mata saya mengalir terus. Tuhan, dimana Engkau? Bukankan Engkau ada dimana kehendakMu terlaksana? Apakah ini juga kehendakMu?

Bunda, jangan menangis lagi. HatiMu sudah cukup lama berduka hebat.

Sesosok bayi mungil akan dipaksa lahir, dicabik-cabik, diremas, diperas, disakiti sedemikian parah, hingga sosoknya tidak lagi berupa malaikat kecil yang dikirim Tuhan ke bumi.

Kemana dia dapat berlari, kemana dia dapat bersembunyi, kemana dia dapat meminta tolong?

Seperti sebuah kisah tentang bayi dan malaikatnya, kali ini malaikat pelindung mengikari janjinya sendiri, malaikat pelindung surga itu telah berkata bohong padanya.

Kata malaikat itu sesaat dia meninggalkan surga menuju bumi, bahwa akan ada malaikat lain yang akan melindunginya di bumi, taman mirip surga, yang akan mengajarinya bahasa bumi yang tidak dimengertinya, bahasa paling indah yang akan pernah didengarnya, puisi penuh makna cinta, bahwa malaikat itu akan melindungi dirinya walaupun tahu dapat membahayakan nyawa malaikat itu sendiri, malaikat yang akan menemani sepanjang hidupnya di bumi, menjaganya, merawatnya, memberinya kehangatan, mendekapnya, mengajarinya segala hal yang indah-indah, malaikat yang akan menunjukkan jalan kembali ke surga, malaikat yang akan dia panggil ‘ibu’.

Namun rahim ibunya sekarang, tempat perlindungannya yang paling aman dan nyaman, yang telah membuaikan tidurnya selama berbulan bulan dengan mimpi indah berceritakan kasih sayang, tempatnya menggantungkan harapan akan sebuah kehidupan baru yang akan membuatnya takjub, akan segera dilewati oleh bilah pisau yang tajam mengkilat, menyayatnya sedikit demi sedikit mulai dari kaki tangannya, perutnya, dadanya, menikam jantungnya, kemudian mengikis paru-parunya yang selama ini merindukan udara pertama, menghancurkan anggota-anggota tubuhnya yang hampir terbentuk sempurna, mengiris satu-persatu dagingnya, mematahkan tulangnya, mengoyakkan nadinya, merampas jiwanya perlahan sampai seutuhnya terhempas, kemudian menyeretnya keluar tak dibiarkan bersisa sedikitpun.

Siapakah yang akan mendengar dia menjerit kesakitan? Siapa yang peduli? Salahkah aku bila terlahir cacat?

Saya tidak dapat bernapas, saya berusaha keras menghirup sebanyaknya udara yang pekat dan menyesakkan ini dengan mulut terbuka lebar, lalu membuangnya sedikit-sedikit, begitu perlahan, takut suaranya kedengaran keluar.

Tidak lama semua suara lenyap. Pintu kamar tindakan ditutup rapat-rapat, tidak dibuka lebar seperti biasanya.

Kengerian memenuhi seluruh ruangan. Sunyi. Hampa. Bahkan tidak ada seorang suster pun yang berani bersuara.

Berduka.

Seorang bayi tak dikenal, bukan anak, bukan saudara, mati di hadapan semua. Kemudian disemayamkan di dalam sebuah plastik kresek hitam murahan. Wujudnya tinggal berupa potongan-potongan tubuh berwarna-warni, merah nadi, putih tulang, ungu hati, kuning plasenta, tinggal dijinjing dibawa pulang orang tuanya, mau dikremasi atau di kubur, sama saja, sudah berada di luar dimensi yang bernama kehidupan.

Satu jiwa tak berdosa kembali ke surga di tangan orang dewasa yang berprofesi mulia, berjubah putih mengkilat sama mengkilatnya dengan pisau yang dipakainya untuk membunuh, seperti yang diminta oleh orang dewasa yang menyebut dirinya orang tua, yang rela membayar harga ini dalam bilangan jutaan rupiah, yang mengenyahkannya demi sepotong harapan tidak ada kesusahan berkepanjangan di masa depan, yang takut menerimanya baik cacat maupun tanpa cacat, yang tidak mengharapkannya.

Seketika itu juga malaikat pelindungnya datang dari surga menjemputnya, karena malaikat lain di bumi telah ingkar akan janjinya untuk menunjukkannya jalan kembali ke surga.

Saya koronka, hanya doa yang bisa menemani Ruben kembali ke sisi yang ilahi.

Tiba-tiba, seorang suster mengejutkan saya, menjengukkan kepala dari balik horden, “ibu…,” bisiknya hampir tak terdengar, “dokter sudah mau visit..”

Set,set,set, set terdengar suara kaki dokter yang bergerak cepat. Bruk, terdengar pintu terbuka lebar.

“Selamat pagi!” sapa dokter riang gembira, memecah keheningan ruangan.

Sapaan dokter kali ini tidak ada yang menjawab. Mungkin juga tidak ada yang menoleh. Suster-suster masih mematung. Membisu.

Dari tengah ruangan dokter berseru dengan semangat, “Yenny, lu yang dimana?”

Dokter menunggu jawaban di antara tiga ruangan berhorden.

“Paling pojok, Dok, dekat tembok,” kata saya.

Dokter celinguk.

“Gimana, sayang, lu bisa tidur semalem?” tanyanya sambil tersenyum. “Habis bukaan lu nggak maju-maju, mending lu diistirahatkan dulu. Hari ini kita coba lagi. Sini, gua periksa.”

Seorang suster buru-buru menyusul masuk, soalnya Dokter terlalu gesit, mendahului susternya.

“Eh?” dokter menatap heran begitu melihat wajah saya dari dekat. “Kenapa lu? Pilek ya?” tanyanya cemas.

“Iya nih, tiba-tiba pilek..” padahal mata saya pasti sembab, habis menangis barusan. Lalu saya menarik turun bantal kepala, menutupi sprei yang basah airmata.

“Sus, ” pesan dokter, “abis ini langsung kasih Yenny clarinase ya, 2x1 ya.”

Dokter langsung memeriksa, masih bukaan 4, setelah menekan perut saya sana-sini, mendorong baby untuk lebih turun lagi, dengan sedikit kecewa katanya, “hari ini kita coba induksi, kalau sampe siang belum nambah juga, lu pulang dulu deh, jalan-jalan dulu, seminggu balik sini lagi. Baby belum mau lahir, kita juga nggak bisa paksa. Lu juga nggak bisa dinduksi terus, ini sudah maksimal, percuma juga kalau nggak nambah bukaan. Jadi biar dia alami aja. Mulut rahim juga masih tebal banget. Nah, nih kencang lagi, tapi nggak mau nambah. Sakit?”

“Nggak. Kalau hadap tengah berasa sakit dikit, kalau miring, nggak sakit sama sekali. Mungkin musti setengah duduk kali, Dok, biar baby lebih nekan ke bawah,” kata saya.

“Oya?” alisnya terangkat, dahinya berkerut, dokter langsung menyetujuinya. “Oke, kita coba.”

Suster segera memutar tuas di ujung ranjang menaikkan bagian kepala sehingga posisinya setengah duduk.

“Coba baby mau muter pantat dulu..,” kata dokter sambil berpikir keras. “Mustinya lebih ada penekanan. Sekarang kepala di bawah, lebih susah dia mau nekan. ”

“Kalau ketubannya dipecahin, Dok?” tanya suster. “Lebih gampang nggak?”

“Jangan,” jawab dokter cepat. “Justru ini bagus, masih ada ketuban, dia lebih berat, nanti lahir lebih licin. Kalau ketuban dipecahin, penekanan berkurang, lahirinnya juga lebih susah.”

Lalu dokter kasih instruksi ke suster untuk menaikkan induksi jadi 40.

Saya kaget campur bingung karena dokter menyuruh pulang lagi. Padahal saya berharap pagi ini dokter akan bilang kita caesar aja atau kita coba epidural. Frustasi sudah 24 jam masih pembukaan 4.

Kalau pulang rumah, repot juga, kalau kenapa-napa, siapa yang mengantar ke rumah sakit, Jc musti ngantor, tidak bisa temani saya lama-lama. Lagian, mau jalan-jalan kemana dengan bukaan 4 ini, atau masuk kantor lagi. Bisa kacau.

Baru setengah jam dengan posisi setengah duduk, jam 9.30 tiba-tiba ketuban pecah. Saya sempat kaget dan berteriak kecil, “Auuu…”

Bukan karena sakit, tapi seperti balon yang berisi air panas tiba-tiba pengikatnya ditarik, terbuka dan tumpah.

Jc yang lagi asyik mojok sambil baca berita di Hp langsung loncat berdiri, panik, “Ha? Kenapa? Kenapa?”

“Ketubannya pecah, banjir. Lu keluar dulu, mau manggil suster, entar gua call ya kalau udah beres.”

Jc buru-buru keluar sebelum suster datang, dia masih khawatir.

“Sus,” panggil saya. “Ketubannya pecah.”

Dua orang suster langsung datang, seluruh badan saya dari leher sampai kaki sudah basah kuyub. Lalu suster menolong saya menggantikan baju, mengganti sprei dan selimut. Seorang suster lain langsung menelpon dokter memberi kabar. Tak lama, seorang suster lain datang, mengepel lantai, karena basah kemana-mana, tumpah-ruah.

Perut langsung mengecil, lebih ringan.

Setelah rapi dan bersih semua, Jc diperbolehkan menemani saya lagi.

Dia kembali duduk di pojokan, tangannya tidak bisa lepas dari Hp searching berita. Bosan juga dia menunggu, koran hari ini juga sudah habis dibacanya.

Saya memintanya menghitung mulas saya pakai stopwatch dengan Hp, tapi karena dia tidak konsen, jadinya timingnya juga tidak pas, akhirnya dia menyuruh saya coba stopwatch sendiri. Jadilah saya main stopwatch, menghitung mulas, tahunya sudah dua menitan.

Jc membantu memberi saya minum pakai sedotan karena mulut saya kering terus. Saat kontraksi datang, saya membuang napas perlahan melalui mulut. Hampir tiap lima menit saya minum seteguk air. Saya sudah tidak boleh sendiri ke toilet lagi, karena sudah pecah ketuban, terpaksa pipis di ranjang, pakai pispot.

Jam 11 siang, bukaan bertambah, jadi 5.

Baby sudah muter tanpa saya sadari. Mungkin baby mendengar kata-kata dokter tadi pagi, suster yang memeriksa bukaan menunjukkan satu tangannya penuh mekonium baby, ee pertama baby, warnya hijau kehitam-hitaman.

“Nggak mungkin,” kata saya. “Masa muter, kapan dia muternya? Kok nggak terasa?”

Suster berkeras kalau memang mekonium itu diambilnya dari pantat baby. Lalu suster melapor ke rekannya yang lain, suster lainnya juga tidak percaya kalau baby mutar, kata mereka belum pernah ada kejadian baby di kamar bersalin masih mau mutar, apalagi ini sudah masuk 42 minggu.

Saya masih sempat SMSan dengan beberapa teman kantor mengabarkan bukaan. Tadi saya sempat bercanda, kalau disuruh pulang seminggu nanti saya ke kantor aja, biar deket ama Jc yang kantornya hanya di depan mata, bisa jalan kaki. Teman saya malah balas SMS, katanya, belanja mainan aja di Pasar pagi. Mereka ikut deg-degan mengikuti proses melahirkan normal.

Karena sering bernapas dengan mulut, tenggorokan saya terasa kering dan membuat saya kesedak batuk-batuk.

Ketika batuk yang kencang sekali, air ketuban keluar lagi lumayan banyak sehingga baju saya basah semua. Kembali suster menggantikan seprei dan baju saya lagi, kali ini baju saya kotor karena air ketubannya sudah tercampur dengan mekonium baby.

Saya akui, suster di rumah sakit ini baik semua, sabar, tidak seperti di rs lain. Sewaktu saya melahirkan Francis, saat pendarahan, saya sendirian di kamar, karena Jc tidak diperbolehkan menemani setelah lewat pemulihan. Seorang suster malah memarahi saya. “Ibu, kalau mau ee jangan sembarangan dong, kan saya jadi repot.”

“Rasanya bukan ee, Sus, keluarnya beda,” kata saya lemah, karena masih ada pengaruh epidural setelah melahirkan, jadi saya tidak tahu cairan apa yang keluar memenuhi ranjang saya.

Begitu suster menggantikan alas tidur saya, saya sempat melihat bahwa itu darah segar, bukan ee, banyaknya sekantong plastik besar.

Tidak lama darah keluar lagi, sebanyak yang pertama. Saya sempat memanggil suster itu dan bilang, ”Sus, sorry, kayaknya keluar lagi…”

Suster marah-marah, katanya, “Ibu tahan dong ee-nya..” Setelah itu saya tidak mendengar apa-apa lagi, tiba-tiba tidak sadarkan diri. Saya kapok melahirkan di rumah sakit itu.

Di sini berbeda, suster menggantikan selimut saya juga walaupun kena air ketuban sedikit, saya melarang suster menggantinya, sayang, baru saja diganti.

Tapi suster bilang, biarin diganti aja, nanti dokter marah kalau tahu. Biar ibu rapi, ranjang rapi, jadi kalau dokter visit, juga enak lihatnya.

Jam 12.30 mulas mulai sering terasa. Makan siang sudah tersedia. Lalu saya makan disuapin oleh Jc, disela-sela mulas.

Jc ikutan makan, dia kelaparannya lagi. Menunya begitu menggoda. Satu jam sebelumnya dia sudah makan bihun goreng di bawah, tapi buru-buru. Lagian makanan di bawah kurang enak.

Jadinya saya makan satu sendok, buru-buru menelan, lalu saya akan mengeluarkan napas panjang dan suara ‘aaa..aa’ kecil-kecil menahan sakit.

Saya berpikir kalau sakitnya sampai lahir segini aja, masih bisa tahan. Ketika mulasnya lewat, saya pasti berkata, “ah, leganya… ayo cerita lagi, ayo makan lagi, suapin lagi.”

Seru. Berlomba dengan waktu.

Bistik ayamnya enak sekali. Supnya juga enak, enak semua, ada pudding pink juga. Saya makan setengah piring, cukup banyak juga karena takut tidak ada tenaga.

Mulas datang tiap menit, lamanya sekitar 30 detik baru pergi. Saya masih sambil main stopwatch. Abis itu saya SMS ke teman bilang bahwa SMSnya stop dulu, karena sudah mulai mulas. Tidak keburu ketik SMS lagi, belum send udah datang lagi mulasnya. Saya coba mengatur napas seperti yang saya baca di buku-buku.

Ternyata buku banyak bohongnya, saat mulas datang, mau tarik napas panjang atau tarik napas dikit-dikit atau buang napas panjang, sakitnya tidak berkurang, cuma bisa menahan sakit sampai dia pergi sendiri.

Induksi sudah dinaikkan ke 60 sejak pembukaan 5, tetesannya mengalir cepat.

Selesai makan, suster memeriksa pembukaan lagi, sudah hampir 7, katanya riang, jadi juga lahir hari ini.

Jam 13.30 pembukaan 8, jantung baby didopler masih bagus. Suster bilang kalau kali ini dia pastikan memegang pantat dan scortum baby. Kali ini mekonium baby juga banyak, kata suster, babynya ee dulu, biar lahir nanti perutnya sudah bersih.

Saat mau diperiksa dalam, saya sempat bilang tunggu sebentar, karena pas mulasnya datang, begitu mulasnya pergi baru boleh cek.

Setiap ada kemajuan pembukaan suster selalu mengabarkan dokter.

Jc langsung menelpon adik dan mama saya karena sudah diwanti-wanti untuk kasih kabar kalau sudah bukaan 8, mereka mau ikut menunggu kelahiran.

Pas jam 14.00 dokter muncul dengan riang gembira, jalannya super cepat. Memang begitu gayanya.

Saya teringat sewaktu Vincent diopname, saat dia bobo, saya sempat duduk-duduk di ruang tunggu anak di lantai 1 sambil nonton tv di dekat balkon. Dari sana terlihat ruang praktek dokter di hall lantai dasar. Tiba-tiba terlihat dokter bergegas keluar dari ruang prakteknya, menghilang lewat pintu samping, dalam sekejap mata dokter muncul di kamar bersalin lantai 2, tidak lama dokter menghilang, muncul lagi lewat pintu samping di lantai dasar, langkahnya begitu ringan seperti orang lari, masuk kembali ke ruang prakteknya.

Saya tersenyum sendiri waktu itu. Keren. Seperti menonton pertunjukkan sulap. Bisa menghilang. Sebentar muncul disini, sebentar muncul disana.

“Yenny, lu udah siap?” kata dokter penuh semangat. “Akhirnya mau lahir juga. Pas banget, pasien gua juga udah habis.”

Dokter yang super riang ini berjalan mondar-mandir dan mengobrol ama suster yang sedang menyiapkan kamar tindakan. Dokter juga memeriksa dan menyemangati satu pasien yang baru masuk, hendak dipasangkan epidural.

Seorang suster berdiri dengan sabar di sisi ranjang saya, katanya, “ibu, kalau mau ee bilang ya.”

“Saya belum mau ee,” kata saya.

Tapi tidak sampai semenit-dua menit kemudian saya berkata lagi, “Sus, mau ee, gimana nih?”

“Ya udah, ibu ee-in aja, nggak apa-apa.”

Saya masih bingung, gimana caranya ee, mulasnya datang berlomba-lomba dan bertubi-tubi.

Suster langsung beres-beres, melepas botol infus dari elektronik dan menaruhnya di ranjang saya, mendorong ranjang saya ke kamar tindakan. Lalu saya pindah ke ranjang tindakan. Rupanya ee merupakan tanda sudah mau lahir.

Ruangan tindakan dingin sekali sampai saya tetap minta diselimuti yang tebal. Lalu kedua kaki dibentangkan. Masih dingin sekali, saya minta kedua kaki saya dililit selimut kain putih yang tipis biar hangat. Mulas datang bertubi-tubi, ada satu yang bikin saya kesakitan sehingga saya sempat teriak kencang, “Aaaaaa…”

“Sttt, jangan teriak, ibu,” buru-buru suster memperingatkan saya. “Nanti tenaganya habis, simpan tenaganya untuk ngedan saja.”

“Sorry… lupa, habis sakit banget,” kata saya sambil mengatur napas.

Napas pendek salah, napas panjang tidak bisa.

“Sus, napasnya musti gimana biar nggak sakit?” tanya saya sambil mencengkram lengan suster erat-erat.

Beberapa minggu lalu saya sempat melihat senam hamil, untuk refresh memory saat mengedan, tapi tidak sempat latihan napas di rumah karena tiap hari dari kantor pulang malam. Boro-boro mau latihan napas. Sampai di rumah langsung diserbu oleh dua unyil kecil-kecil yang cerewet ditambah dua unyil lain, keponakan saya, yang sama cerewetnya.

“Ibu, tarik napas panjang… terus buang ‘haaaa’,” kata suster yang juga guru senam hamil.

Saya coba mengikutinnya, tarik napas panjang, tidak hilang juga mulasnya, ya udah pikir saya, yang penting masih bisa napas.

Jc berada di sisi saya. Saya selalu kehausan. Dia siap sedia memberi minum lewat sedotan. Suster mengingatkan minum hanya untuk membasahi mulut aja, jangan banyak-banyak.

Tiba-tiba kedua tangan saya tegang, kaku dan sekitar mulut saya juga baal, “Sus, kaku nih, gimana?” tanya saya.

“Ibu, jangan tegang, coba sini, tangannya pegang ini,” kata suster sambil menggiring tangan saya memegang besi untuk menarik badan saat ngedan. Mengurut-urut tangan saya.

Jc membantu menekukkan jari saya sebelah kanan untuk memegang besi itu.

“Sus, nggak berasa, urutnya kencangan dikit,” pinta saya.

“Jangan kencang-kencang, segini udah cukup, nanti tangan kamu biru-biru.”

“Nggak apa-apa, belum terasa, Sus,” pinta saya lagi.

“Nggak boleh lebih kencang lagi, biru-biru, besok baru berasa sakitnya,” jawab suster dengan sabar.

Dokter sedang memakai baju pelapisnya sambil bernyanyi-nyanyi, menggulung lengan kemeja panjangnya, memakai sarung tangan dan siap-siap duduk di kursi tindakan.

“Hebat dia,” puji dokter. ”Untung mutar pantat dulu, kalau nggak, bisa lebih lama lahirnya. Padahal pas gua cek terakhir, masih kepala.”

“Dok..,” tanya saya, “sebelum digunting nanti, dibius dulu nggak?” saya takut banget digunting. Padahal dulu pernah nanya, tetap aja nanya lagi.

“Nggak dong. Lu tenang aja, nanti gua bikin lu nggak berasa sakit,” janjinya.

Lalu dokter memberi suster aba-aba untuk semprotkan spray betadin.

“Ayo, sayang, bukaan udah lengkap,” kata dokter penuh semangat. “Tuh udah keliatan pantatnya, tunggu mulas datang lalu dorong yang kuat ya.”

Dokter menoleh sekeliling ruangan. “Heran.., lu masih kedinginan ya, padahal dari tadi AC udah gua matiin.”

“Iya.. dingin banget,” sahut saya menggigil.

“Sabar ya, sebentar lagi udah mau lahir. Tuh infus juga udah gua stop,” kata dokter.

Saya mulai mengedan, tapi caranya salah, tenaganya terlepas hanya sampai di mulut. Ternyata cara ngedan bisa lupa juga.

Suster mengajari saya bahwa harus mendorong kuat ke bawah, seperti hendak ee yang keras sekali seperti batu.

Akhirnya saya berhasil ngedan dengan benar. Saya mengedan beberapa kali. Suster dan dokter kasih semangat terus-terusan. Bagus, bagus, dikit lagi, dikit lagi. Cakep, cakep banget, ayo lagi.

Mustinya sekali ngedan 2-3 kali dorong, tapi saya hanya kuat 1½ kali, lalu saya kasih tanda pakai tangan, “stop…stop dulu.., nggak kuat…ambil napas dulu ya…”

“Boleh. Nggak apa-apa. Gua tungguin kok,” kata dokter santai. Dokter dan suster berhenti menyoraki semangat, menunggu mulas datang lagi.

Dengan sabar dokter menunggu sambil mengobrol dengan suster-suster. “Lu orang pada mau makan padang nggak?”

“Nggak mau ah, kalo padang, baru aja makan,” jawab suster. “Emang Dok belum makan? Udah jam berapa nih?”

“Belum makan, nggak sempat. Makan apa ya? Bosan makan soto.”

Dokter memperhatikan suster satu-persatu, mukanya sumringah, kocak banget, katanya, “Lu orang cakep bener sih hari ini.”

“Cakep dong, Dok,” sahut suster-suster pamer.

“Pakai safari biru. Nggak kayak suster deh, bikin orang pangling aja. Udah kayak orang kantoran. Hallo.., di sini resepsionis. Bisa dibantu?” tertawanya riang memenuhi seisi ruangan. Semua suster tertawa.

Aduh, orang lagi mulas sempet-sempetnya pada bercanda.

Belum lagi dokternya bercanda-canda pakai bahasa Jawa sama suster, mereka semua tertawa riang. Saya nggak ngerti.

“Kalau di desa,” kata dokter, “mau lahir sungsang nggak masalah. Tapi orang kota malah takut setengah mati, pada minta dicasesar. Padahal sama aja. Orang desa malah kalau dibilang mau caesar, sudah kayak mau mati, udah dibaca-bacain.”

“Betul, Dok,” jawab suster, “sudah sekalian disiapin buat upacara pemakamannya juga.”

Ada sepuluh kali lebih saya mengedan, tapi tidak juga mau lahir.

“Untung panggul lu gede, Yen,” kata dokter. “Jalan lahir juga bagus banget. Udah cakep bener nih. Ayo dikit lagi, ya,” dokter terus memberi semangat.

Lalu dokter dan suster kembali bercanda disela-sela saya ambil napas. Semuanya santai.

Seorang suster memberikan lengan dan rusuknya untuk menjadi pijakan bagi kaki saya.

“Dok, nahannya musti gini, nih,” kata suster sambil menyampingkan badannya. “Kaki nahan disini, ngedannya jadi lebih kuat.”

“Pinter betul lu!” dokter memuji. “Jadi seperti pijakan ya.”

Saya meminta suster di sebelah kanan saya juga sedikit menyamping, menahan kaki saya sehingga pijakannya seimbang. Ternyata memang betul, tenaga saya jadi lebih kuat.

Satu suster berada di atas kepala saya, melap muka saya yang keringatan.

Jc bertugas membantu angkat kepala saya saat ngedan, “Ayo, dikit lagi, semangat,” bisiknya di kuping saya. Jc melihat saya seperti mau tidur-tiduran, padahal saya sedang menghimpun tenaga buat ngedan berikut sambil tunggu puncak mulas datang lagi.

Suster sempat akan memasangkan oksigen ke hidung saya, tapi saya menolak karena bikin ribet.

“Dok, kok nggak nyampe-nyampe sih?” tanya saya terengah-engah hampir kehabisan napas.

“Dikii.iiit lagi...,” jawab dokter sambil tersenyum. “Kalau ini kepala, udah dari tadi gua vakum. Lha, ini pantat. Gimana mau divakum?” katanya sambil tertawa. “Ayo, coba lagi, gua tungguin kok, kali ini yang kuat lagi ya.” Dokter terus menyemati.

Lalu saya mengedan lagi beberapa kali. Akhirnya dokter berkata, “abis ini, ngedan sekali lagi yang kuat, baru gua gunting, ya.”

Kata ini yang paling membuat saya lega. Sampai juga di ujung. Kirain tidak berujung.

Saya mau berdoa meminta kekuatan tambahan dari Tuhan tapi tidak bisa, otaknya sudah tidak bisa merangkai kata-kata.

Tinggal satu dua kali lagi, ulang saya dalam hati, lalu saya meminta selimut tebal di atas dada saya dilepas, karena kepanasan, dan supaya tangan suster bisa bantu mendorong dari atas perut. Saya sudah mandi keringat, napas juga sanggupnya pendek-pendek, lelah, mulas.

Saya menarik napas panjang, menahan dan mendorong sekuat tenaga, dari atas saya melihat sesosok tubuh, pantat baby yang bulat perlahan keluar.

Saat yang sama dokter menggunting perineum, rasanya lebih enak karena keluarnya jadi lancar, tidak terasa sama sekali saat digunting.

Suster bantu mendorong dengan tangannya yang kuat, saya menarik napas kedua, semuanya terlihat, punggung bayi keluar perlahan. Dokter sudah menangkap baby dengan kedua tangannya, dan … bayi melesat keluar! Utuh, menekuk mencium lutut, seperti dipress.

Whuaaa! Selesai! Leganya! Semua sakitnya hilang. Lenyap begitu aja.

Saya menaruh kepala saya, tenaga saya habis, baru bisa bernapas sedikit panjang, tapi masih ngos-ngosan juga.

Dokter memegang baby dengan kedua tangannya, mengangkatnya lebih tinggi sehingga saya bisa melihatnya.

Baby tidak menangis, dia terkulai diam.

“Meninggal ya, Dok?” tanya saya pasrah.

“Ya…,” jawab dokter pelan. “Baru aja meninggal.., masih merah, sesaat mau lahir, dia pergi...”

Dokter membetulkan posisi baby yang masih menekuk, satu tangan memegang kepala baby dengan hati-hati, satu tangan lagi menahan pantat baby, terlihat wujud baby yang mungil, matanya setengah menutup seperti sedang tertidur nyenyak, begitu damai…

Saya melihat jam di dinding, jam 2.30 siang, jam yang sama ketika Yesus berada di salib menjelang wafatNya.

Jc langsung menangis begitu melihat baby. Saya tidak menangis, tidak punya tenaga lagi untuk menangis. Jc merangkul kepala saya, dia menyembunyikan wajahnya dan menangis di kuping saya.

“Jangan nangis..,” pinta saya perlahan sambil meraih kepala Jc. “Saya aja nggak nangis..”

Saya tidak bisa memikirkan apa-apa lagi.

Dokter menyerahkan baby ke suster.

Suster bertanya ke saya, “mau lihat?”

“Ya…,” kata saya lirih. ”Saya mau lihat siapa yang selama ini nakal di perut saya.”

Perlahan Jc mengangkat wajahnya, tetes-tetes air matanya berjatuhan. Mencoba berdiri tegar di sisi saya. Lalu Jc meninggalkan saya dan menghampiri suster.

Saya melihat baby sebentar, serasa tidak percaya, baby cakep sekali. Perlahan saya membelai dengkulnya yang masih menekuk, membelainya sampai ke kakinya. Kecil sekali kaki-kakinya. Mungil sekali. Masih ada sedikit bercak darah di sana sini. Kulitnya masih terlihat keriput. Ancillo telah pergi diam-diam.

Lalu suster membawanya pergi, tidak memberi saya kesempatan lebih lama sedikit untuk memperhatikan baby.

“Yenny..,” kata dokter, “sekarang lu punya satu tabungan di surga…., dia menunggu lu di surga.”

Saya diam saja. Mati rasa. Kosong. Ancillo sudah pergi ya.., tiba-tiba dia sudah pergi.

Seorang suster yang berdiri di dekat saya berkata perlahan, “Dok.., saya juga punya satu tabungan di surga.”

“Saya nggak tahu.., kapan?” tanya dokter menoleh padanya.

“Pergi umur dua tahun, Dok,” jawabnya sedih. ”DS”

“Dia juga sedang menunggu lu di surga,” hibur dokter.

Jc terus berada di samping suster, mendampingi baby.

“Mirip siapa?” saya bertanya pada Jc.

“Antara Vincent dan Francis,” jawab Jc.

Lalu dokter meminta saya untuk sekali lagi mengedan, tidak perlu kuat-kuat, untuk keluarkan plasentanya. Sambil menekan perut saya, plasentapun keluar dengan mudah. Tidak terasa sakit.

Dokter lalu menyuntikkan bius local sebelum menjahit, “gua tambahin satu suntikan, jadi tiga, biar lu nggak rasa sakit ya.”

Saya diam aja, memperhatikan suster menimbang baby.

“Beratnya 2410,” suster melapor.

Dokter langsung membalikkan badan, menoleh ke suster, “coba timbang lagi, masa cuma 2410, gede kok.”

“Bener kok, Dok, tuh 2410,” suster sambil menunjukkan jarinya di timbangan.

“Cuma segitu ya..,” guman dokter.

Badan baby cukup besar, sebesar baby 3 kilo lebih, ternyata otak dan tempurung beratnya sekitar sekilo sendiri. Panjangnya 46 cm.

Jc mengambil beberapa foto baby.

Sehabis menyuntik dokter langsung menjahit. Saya sempat terpikir, apa nggak kecepatan, rasanya obatnya belum berfungsi. Tapi memang tidak terasa sakit.

Saya bertanya perlahan, tenaga saya belum pulih, “Dok.., disini ada nggak orang yang nggak mau babynya, terus babynya ditinggal?”

“Gua nggak tahu. Kenapa?” tanya dokter.

“Kalau ada.., saya mau adopsi.” Saat ini saya ingin sekali bisa membawa pulang seorang baby.

“Ngapain lu adopsi?” tanyanya heran, tangannya berhenti bekerja. “Kalau lu masih bisa lahir sendiri, lu nggak bisa sayang anak adopsi.”

“Mau yang instant.., cape hamilnya..”

“Lu habis ini hamil lagi. Satu lagi.”

“Jangan deh, Dok..,” potong Jc, sambil menghampiri saya, menanyakan dimana saya menyimpan baju baby.

“Kenapa?” tanya dokter, menoleh pada Jc.

“Ngeri ngelihat dia lahirin. Nggak lagi deh,” jawab Jc.

“Dia mah takut banget saya mati, Dok” jawab saya masih bisa senyum. Jc memang selalu ketakutan bila di kamar bersalin. Tapi dia juga selalu setia menemani saya sampai tiga kali.

Saya memberitahu Jc kalau baju baby ada di tas tersendiri, di kamar. Lalu Jc pergi mengambilnya.

Dokter melanjutkan, “lu lahir satu lagi, masih bisa, tapi next time lu pakai epidural aja, jadi lu nggak perlu kesakitan kayak gini. Kali ini kan nggak pendarahan, jadi boleh epidural,” kata dokter sambil menekan-nekan perut, “kontraksi baliknya bagus kok.”

“Nanti mama saya marah kalau saya hamil lagi.” kata saya.

“Lu yang hamil, kok pakai nanya-nanya mama. Lu kan udah gede, putusin sendiri dong.”

“Lihat nanti deh… tapi nanti bisa keropos tulang lagi, kayak mama teman saya.”

“Nggaklah, asal lu rajin minum susu.”

“Nggak bisa minum..”

“Lu minum kalsium aja.”

Dalam benak saya cuma mau pulang rumah, terbayang wajah Vincent dan Francis, sudah dua hari saya tidak bertemu mereka. Kangen ama mereka.

“Dok..” panggil saya

“Ya?” dokter menoleh.

“Teman saya waktu itu suruh saya ke satu pendeta, yang katanya bisa sembuhin baby yang hidrocefalus, terus bisa sembuhin baby yang sudah meninggal dalam kandungan,” kata saya padanya.

“Trus, lu gimana?” tanya dokter.

“Nggak mau aja,” jawab saya pendek.

“Gua juga pernah dengar tentang dia,” sahutnya tenang. “Menurut gua ya, sampai sekarang.., belum ada manusia yang bisa bangkitkan manusia. Yang bisa cuma Yesus.”

Saya cukup terkejut mendengar jawabannya.

Sekeliling saya sudah sepi, tinggal saya dan dokter, sebagian suster sibuk dengan baby, sebagian lagi sudah bubar.

Aneh rasanya, saya masih hidup ya. Saya mencoba memahami yang baru saja terjadi. Iya betul, saya masih bernapas walaupun terengah-engah. Saya masih merasakan tangan saya membuka dan menutup, ngilu bila terkena dingin, belum hilang juga sejak mulai hamil besar.

“Dok, kalau mau steril kapan?” tanya saya.

“Sekarang gini,” jawab dokter kembali menoleh.

“Bisa langsung?” tanya saya.

“Serius lu?” tanya dokter. “Lha.., gua udah jahit setengah baru bilang, mustinya tadi, pas gua belum jahit,” kata dokter. Tidak terdengar nada marah sedikitpun. Matanya menanti jawaban saya.

“Nanya doang kok,” kata saya.

“Lu ngagetin gua aja,” sahutnya lega. “Nanti aja kalau mau steril, pas lu kontrol lagi. Jangan sekarang ya, lu pikir dulu baik-baik, bukannya lu masih coba satu lagi?”

“Dok…”

“Hmm..?”

“Kenapa kalau udah tiga bulan musti dilahirin normal ya, bukan langsung kuret?” tanya saya.

“Ya, kan babynya udah gede. Lu lagi ngomongin yang barusan ya?”

“Iya, tadi pagi, dikuret ama Dr. ****”

“Gua juga baru tahu, tadi suster barusan cerita,” kata dokter pelan. “Dulu, dia pasien gua, kena rubella, gua minta dia pertahanin babynya tapi dia nggak mau..”

“Dia cerita kalau dokter nggak mau aborsi.”

“Ngapain aborsi?” suaranya datar, “rubella nggak napa-napa kok.”

“Mereka takut babynya cacat.”

“Tapi kan masih ada chance untuk normal? Kenapa musti aborsi?”

“Istrinya sempat berubah pikiran tadi pagi, tapi suaminya tetap nggak mau.”

“Gua pernah cerita ke lu kan pasien gua yang kena rubella juga? Sudah umur lima tahun sekarang, sehat-sehat aja.”

“Pernah.”

“Memang..,” kata dokter tertahan, “kalau rubella diaborsi, secara medis dibenarkan…” Suaranya berat, terdengar begitu terpukul, kecewa dan pasrah, semuanya sudah terjadi...

“Kenapa dokter nggak langsung bilangin ke Dr. **** aja?”

“Ngapain?” tanya dokter, enggan.

“Dia sampai kelimpungan cari-cari dokter yang mau.”

“Dulu memang gua menyebut nama dokternya, tapi sekarang gua nggak mau rekomen siapa, biarin dia cari sendiri. Kalau baby diaborsi, kasihan..”

“Stop, Dok,” potong saya segera, “jangan cerita lagi, nanti saya nangis..”

Saya tidak mau menangis, untuk napas aja udah susah payah.

Dokter kembali bekerja. Tidak lama dokter merasa benangnya kurang. “Sus,” katanya, “tolong benang lagi dong, kayaknya kurang dikit.”

“Nanti musti lepas jahitan nggak?” tanya saya.

“Nggak, benangnya langsung menyatu dengan daging.”

“O begitu..” kata saya. ”Emang berapa jahitan, Dok? Parah ya?”

“Sus, ini berapa jahitan?” dokter balik bertanya ke susternya.

“Dulu orang memang ngitungin berapa jahitan,” jawab suster sambil memberikan benang yang diminta dokter. “Sekarang nggak lagi, udah nggak dijahit, teknik jahitnya beda, jadi nggak bisa dihitung. Disulam ya, Dok, namanya?”

Dokter cuma senyum mengangkat bahu.

“Udah cukup, Sus, nggak jadi nambah benang deh, kayaknya benangnya pas banget panjangnya.”

Lalu suster pergi, menyimpan balik benang di lemari.

“Dok, yang seperti ini pasien ke berapa?” tanya saya.

“Kedua,” jawabnya pelan. “Yang pertama waktu gua masih di kampung, sama seperti lu, sungsang juga.”

Dokter menarik napas dalam-dalam, memejamkan matanya sejenak. “Pas tengah-tengah lahiran, mendadak ibunya emboli, jantungnya langsung berhenti.”

Dokter terdiam sesaat.

Saya menunggu dokter melanjutkan ceritanya. Emboli, pikir saya, udara masuk ke pembuluh darah, selalu fatal.

“Ibunya kejang-kejang. .,” lanjut dokter, “langsung pakai segala cara untuk pacu jantung ibunya, berjuang mati-matian untuk selamatin ibunya..”

“Selamat nggak ibunya?” tanya saya pelan dengan napas tertahan.

“Selamat….,” kalimatnya menggantung.

“Terus?” tanya saya berbisik.

“Tapinya..,” kata dokter dengan sangat lemah, “abis itu ibu udah nggak bisa apa-apa lagi…”

Deg! Jantung saya terasa berhenti. Mati otak? tanya saya dalam hati, saya tidak berani bertanya lagi.

Hening. Kepedihan melintas.

Lama terdiam.

Pasti berat sekali buat dokter saat itu. Kejadian ini seakan membuka kembali lembaran lamanya, kenangan yang menakutkan, juga menyedihkan.

Saya menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, lalu membukanya kembali, mengamati sekeliling saya, masih sama seperti sebelum saya memejamkan mata. Untung saya tidak kenapa-napa.

Mata saya menerawang ke sudut atas ruangan yang putih bersih ini, saya melihat bayangan diri saya di sana , berdiri melayang di sudut atas, matanya memandang kosong ke depan, tatapannya hampa, sambil menggandeng baby. Dia memakai baju putih panjang yang sama seperti baju baby yang juga panjang. Matanya menyapu sekeliling ruangan ini, tampak punggung dokter dari belakang, kepalanya sedang menunduk, tampak pula diri saya yang sedang berbaring tak berdaya, wajahnya pucat, sedangkan di pojok ruangan tampak baby yang terbaring sendirian, tertidur dalam damainya, perlahan-lahan bayangan itu memudar, bergerak menjauh, semakin samar tertutup kabut putih, semakin mengecil…

“Gua nggak berani cerita ini ke lu,” suara dokter seakan menarik kembali roh saya ke tempatnya semula. “Kalo gua cerita, nanti lu tambah ketakutan..”

Saya terdiam.

Terima kasih atas kebaikanMu, Tuhan, telah memberi saya kesempatan hidup kedua. Pakailah diri saya yang sekarang ini seperti yang Kau ingini, untuk mencegah aborsi, seperti janji saya pada malam yang lalu.

Kau berikan mujijat bertubi-tubi di saat-saat terakhir, di saat saya sudah tidak berani meminta apapun...

Saya menoleh ke kiri kanan, ruangan tambah sepi, hanya tinggal satu suster berdiri menemani baby, menunggu Jc membawakan baju untuknya.

Cukup lama Jc balik ke kamar untuk mengambil tas berisi baju baby. Sepertinya dia sekalian mengabarkan ke mama saya di ruang tunggu bahwa saya selamat tapi baby tidak.

Begitu melihat wajah Jc, adik saya langsung tahu bahwa mujijat kesembuhan baby tidak terjadi. Wajah Jc begitu sembab, matanya berair, mencoba tegar menghadapi ini semua. Dalam mimpinya, dia melihat seorang baby putih mungil tanpa cacat sedang tertidur pulas. Namun Tuhan telah menjawab doanya yang lain, kakaknya selamat.

Tadi saya sempat mendengar Jc menelpon ke Atmajaya, untuk penjemputan baby. Tiga bulan lalu kami sempat ke sana untuk menanyakan kremasi untuk baby. Kami menyimpan kartu nama contact person tersebut. Sayangnya, beliau tersebut sedang tidak ditempat.

Sebelumnya, kami ingin baby dimakamkan di pemakaman yang baru di Krawang, dengan latar belakang bukit hijau, agar menjadi tempat peristirahatan terakhirnya yang damai, saya ingin kedua kakaknya mengetahui bahwa adiknya tertidur di sana , agar setiap tahun kami dapat mengunjunginya dan mengenangnya. Tapi mama saya tidak memperbolehkan, menurutnya kepercayaannya, baby sebaiknya dikremasi agar rohnya cepat kembali. Dia adalah Buddha yang menjalani reinkarnasi terakhir, perlu sekali lagi reinkarnasi agar sempurna menjadi Buddha. Jadi selama ini saya mengandung seorang Buddha?

“Jam berapa dijemput?” tanya dokter, sejenak perhatiannya beralih pada Jc yang kembali membawa tas baby.

“Nanti, Dok,” kata Jc, “sekitar jam 5 sore.”

“Atmajaya udah tahu musti ke sini, lantai 2?”

“Udah, udah dikasih tahu.”

Dokter memberitahukan suster agar nanti baby ditempatkan di ruang tindakan satu lagi yang lebih kecil, soalnya di sana tidak banyak orang yang mundar-mandir, ruangannya sedikit tersembunyi.

Saya kembali bertanya-tanya sendiri, kira-kira tadi berapa kali ngedan ya baru baby mau lahir. Mungkin sekitar duapuluh kali… untung saya tidak buta. Terima kasih sekali lagi ya, Tuhan.

“Satu jahitan lagi selesai. Gua pastikan lu nggak pendarahan,” kata dokter lega.

“Terima kasih ya, Dok..” Hanya itu yang mampu saya katakan padanya, saya tidak punya kata-kata lain untuk semua supportnya sampai detik ini.

“Sama-sama,” balasnya tulus.

Tidak lama kemudian dokter selesai, dia membuka sarung sarung tangannya, menepuk-nepuk kaki saya, lalu bangkit berdiri perlahan dan langsung menghampiri baby.

Lama Dokter berdiri di sana . Dia memperhatikan baby, mengucapkan selamat jalan dan melepas kepergiannya sambil berkata perlahan pada baby, “De.., inget-inget ama Om ya di surga…”

Dokter masih berdiam di sana , termenung.

Saya terharu mendengar kata-kata dokter. Tanpa saya sadari air mata pertama mengalir perlahan di kedua pipi saya. Sedari tadi saya belum menangis. “De, ingat mama juga ya di surga,” bisik saya lirih.

Suster merapikan saya dan memakaikan baju biasa, sarung dan korset. Saya berbaring lemah, dinginnya ruangan kembali terasa menusuk tulang, suster lalu menyelimuti saya dengan selimut tebal berwarna coklat, hangat sekali.

Ancillo sudah pergi, begitu tenang, bahkan dia tidak menyapa kami orang tuanya. Dia juga tidak meninggalkan kenangan akan tangisan pertamanya.

Saya tidak bisa membayangkan bagaimana seandainya dia bisa bertahan hidup beberapa hari, dimana dia akan diletakkan, di kamar bersalin, di ruang bayi, di inkubator, di box baby, di sisi saya... bagaimana saya bisa kuat menghadapi detik demi detik, berjaga-jaga sambil memperhatikan napasnya satu-persatu, menemaninya terus di sisi saya, memandanginya sampai ajal menjemputnya.

Dia benar-benar anak yang baik, tidak menyusahkan saya sama sekali. Benar-benar malaikat kecil saya dari Tuhan. Begitu istimewa. Begitu sempurna di mata saya. Satu jam lalu dia masih bersama saya, tadi siang juga dia tiba-tiba mutar. Anak yang hebat…

Dokter membalikkan badan, melangkah pelan sampai ke dekat gantungan baju di sudut ruangan, baru aja mau melepas jubahnya, namun seorang suster mengingatkannya kalau masih ada satu pasien lagi, sudah mau lahir.

Dokter teringat kembali, ada seorang ibu lain yang tengah menunggunya untuk menolong kelahiran seorang baby yang telah dinantikannya selama berbulan-bulan. Dirinya yang dipakai Tuhan menjadi perantara untuk menghadirkan buah cinta bagi kedua orang tuanya dan menjadikannya malaikat kecil di tengah keluarganya. Tangannya yang dipinjam Tuhan untuk menyelamatkan ibu dan anak. Dokter bergegas meninggalkan ruangan, menghampiri ibu itu.

Jc menemui saya, dia tampak kebingungan memilihkan baju untuk baby, beberapa baju baru kami bawakan, karena saya pikir baby dapat bertahan hidup beberapa hari.

Saya memilihkan baju biru dasar putih, bergambar anak-anak domba, baju yang paling saya suka. Saya tidak mau baby memakai baju putih-putih, dalam benak saya, baby sedang tertidur nyenyak. Dia tidak mati, tidak pernah mati. Dia selalu hidup di hati saya. Selamanya.

Jc lalu memilihkan kaos kaki dan kaos tangan yang warnanya senada. Topi dipilihnya yang putih. Jc sudah tidak menangis.

Tak lama saya sudah boleh dijenguk, mama saya langsung menghampiri saya, wajahnya gembira sekali, anaknya selamat, begitu leganya melihat saya, lalu Jc menemaninya ke ruangan lain untuk melihat baby. Adik saya dan ipar saya bergantian menjenguk.

Mama kembali menemui saya dan bilang babynya cakep, badannya bagus, dadanya bidang, seperti atlit, perutnya juga kempes tidak seperti baby lainnya yang buncit, baby perutnya rata, mekoniumnya sudah dikeluarkan saat bukaan delapan, bahkan baby pergi dengan benar-benar bersih. Pahanya gendut berisi, keliatan ada dua lipatan, tandanya kalau punya adik lagi pasti laki-laki.

Selama dua jam pemulihan, sakitnya sudah hilang. Dokter memang memberikan dua kapsul voltaren untuk anti sakit, tapi memang begitu baby lahir sudah tidak terasa sakit lagi.

Seperti mimpi, perut saya kempes, kosong, tidak ada baby lagi yang menemani saya selama berbulan-bulan, dia telah pergi meninggalkan saya sendiri ...

Saya SMS ke satu teman kantor mengabarkan kalau saya sudah melahirkan dengan selamat dan sang malaikat kecil, Ancillo Dominic, telah kembali ke surga pada jam yang sama. Saya memintanya untuk tidak menelpon atau SMS, saya tidak mau diganggu.

Berulang kali saya mencoba memejamkan mata untuk beristirahat, tapi tidak bisa, mungkin terlalu lelah.

Setelah dua jam, saya didorong keluar oleh suster dari ruang tindakan.

Sore itu sepi sekali, tidak ada pasien lain, suster juga bekerja dalam diam. Hanya terlihat tiga orang suster, biasanya cukup ramai.

Tidak semua lampu dinyalakan sehingga ruangan tampak sedikit redup. Ketika saya melintas di ruang tengah, dalam keremangan cahaya, saya melihat dokter sedang seorang diri, senderan dengan santai di kursi kayu, lengan bajunya masih tergulung, sementar jari tangannya asyik bermain Hp sambil menunggu jam 5 sore untuk praktek sampai tengah malam lagi. Dokter tidak sempat pulang rumah untuk beristirahat.

Suster sempat ragu mau membawa saya kemana, langsung ke kamar atau tetap di kamar bersalin. Mereka menoleh ke dokter, tapi dokter sudah tenggelam di dunia maya, mereka tidak jadi mengusiknya. Akhirnya suster memutuskan untuk tetap di kamar bersalin sesaat lagi.

Jc menemani saya sambil sekali-kali menelpon ke Atmajaya, sore ini banyak yang meninggal sehingga jadwal penjemputan baby berubah-berubah.

Saya berhenti menangis. Antara lega karena selamat dan berhasil melewati hal yang paling saya takuti selama ini. Jc juga sudah biasa.

Saya bertanya Jc, “Emang lu kelihatan babynya makin turun setiap kali ngedan?”

“Nggak” jawabnya santai. “Gua cuma ikutan-ikutan suster dan dokter kasih semangat terus. Mana kelihatan, gua kan berdirinya di kepala.”

“Dasar lu orang, tahunya semuanya cheerleader.”

“Lha lu nggak tahu, si dokter dan suster sengaja lagi bercanda-canda, biar nggak tegang. Tadi pas dokter nawarin makan padang ke suster, gua pengen nyahut tuh, ya pada nggak maulah, abis nawarinnya cuma padang.” katanya sambil tertawa.

“Gua sampe frustasi ngedannya, nggak nyampe-nyampe. Udah nggak bisa mikir.”

“Lu kan juga dibohongin ama dokter waktu dia bilang induksinya sudah di stop,” ledek Jc. Mata saya langsung melotot ke arahnya, hari ini dibohongin terus.

“Tadi susternya mainin infusnya,” lanjut Jc, “dinaik-turunin tetesannya, sampai cepat banget netesnya. Dokter diam-diam kasih aba-aba.”

“Kapan?” tanya saya.

Jc tertawa lagi, “lu nggak tau kan ?”

Jc senang banget melihat saya kesal dibohongin.

“Tapi… hebat juga ya, bisa lahir..,” kata saya, “eh tadi aku sempat teriak kenceng banget ya, lu kaget nggak?”

“Udah lupa,” sahut Jc. “Udah panik soalnya.”

Jam 5 sore kami dipindah ke kamar. Saat akan pindah, terdengar di ruang tindakan, seorang ibu sedang menahan kesakitan. Sebentar lagi mau melahirkan. Saya langsung berkata ke Jc, “bilangin Sus dong, mau buru-buru pindah kamar, deg-degan dengernya, bikin terulang.”

Ketika sampai di kamar, tahunya mama, adik dan ipar saya sudah menunggu di sana .

Jc masih sibuk dengan Atmajaya. Janji mereka jam 5 sore, tapi belum datang juga, katanya jalanan di jembatan tiga juga macet total.

Akhirnya Atmajaya datang juga menjemput baby. Tadinya Jc mau menyusul sendirian ke sana , untuk mengurus masalah administrasi, peti, jadwal misa, jadwal kremasi, tapi adik dan ipar saya menemaninya, karena Jc masih terlihat bingung. Ini pertama kalinya dia mengurus kematian.

Sampai jam sembilan malam keluarga saya berdatangan, mereka melihat foto-foto baby di kamera. Mereka mengatakan kalau babynya bagus, badannya sehat, berisi, mukanya bagus, meninggalnya juga tenang. Saya sudah tidak sedih.

Ketika malam hari sudah pulang semua, Jc mengurut kaki tangan saya dengan minyak telon, mulai terasa pegal-pegal. Enak diurut-urut, hangat.

Seluruh bengkak di telapak kaki, paha, lengan, jari tangan hilang semua, airnya seperti diserap semua oleh tubuh. Tubuh manusia memang penuh keajaiban.

“Saya masih mau satu baby lagi,” pinta saya. “Abis ini, kita treatment ya ama dokter, biar baby nggak gini lagi…”

“Nggak lagi deh..” kata Jc menawar.

“Yang tadi kan sakitnya udah maksimal, udah diinduksi, baby nggak bantu dorong, gede, sungsang pula, masih bisa tahan kok. Lain kali pasti nggak sesakit gini, lahirin normal lagi juga berani, nggak trauma,” kata saya berusaha meyakinkan Jc.

“Nggak deh..,” kata Jc sambil mencium pipi saya. “ Ini peringatan dari Tuhan, kalau minta nggak boleh berlebih. Udah punya dua, masih minta satu lagi sih…”

“Nanti ya kita planning lagi,” kata saya berkeras.

Penderitaan dan penantian panjang selama sembilan bulan sudah lupa. Sakitnya melahirkan juga udah lupa semua. Berlalu begitu aja. Saya memang short-memory, teman saya sampai bilang saya seperti Dori, temannya Nemo.

Malam itu saya tertidur, walau sebentar-sebentar terbangun. Untaian rosario menggantung dekat selang infus, menemani saya saat terjaga, langsung saya teringat untuk menitipkan Ancillo pada Yesus.

Saya kesepian sekali. Kembali menangis membayangkan Ancillo. Tadi suster begitu cepat membawanya pergi. Apakah memang begitu, supaya ibunya tidak terbayang-bayang akan babynya.

Saya belum sempat memeluknya, belum mencium pipinya, belum mendekapnya, rindu ini tidak tertahankan. Saya ingin sekali lagi bisa membelainya, mengulanginya.

Saya mengambil kamera, mengamati fotonya satu persatu. Suster mengikat kedua tangannya dengan kain kanfas putih, begitu juga kedua kakiny. Jc bilang, suster sempat mengatur mulut baby agar tidak terbuka, dan hendak mengikat rahangnya dengan kain kanfas putih. Tapi Jc melarangnya, dia tidak mau babynya diikat-ikat seperti orang mati. Biarkan dia berpenampilan seperti baby lainnya, seakan sedang tidur yang nyenyak. Matanya sedikit terpejam, tidak sampai menutup rapat, bola matanya kelihatan, baby seperti sedang terkantuk-kantuk. Kulitnya putih bersih, dadanya bidang, lengannya putih-bersih berisi, pahanya juga berisi, sehat sekali, telapak kakinya kecil, jari tangan kecil, begitu mungil, pipinya tembem, mulutnya mungil, hidungnya mungil, mancung, wajahnya imut-imut.

Suster menutup atas kepalanya dengan kain bedong biru, baby tidak dapat dipakaikan topi karena topinya kebesaran, bila dipaksa pakai topi akan menyarungi seluruh mukanya.

Foto lain memperlihatkan baby sudah dipakaikan pakai baju overall biru tangan panjang bergambar anak-anak domba, baby kelihatan begitu manis dengan bajunya yang kebesaran sedikit, kalau dipakaikan pampers pasti bajunya pas. Baby memakai kaos tangan dan kaos kaki, siap dibawa pulang… kalau saja dia tidak meninggal.

Jc bilang, ketika dijemput tadi, dia sempat melihat kalau baby sudah mulai kaku, jari-jari kakinya membiru. Tapi mukanya belum membiru, masih sama.

Saat ini baby sedang sendirian di Atmajaya, tidak ada yang menemani disana, udah masuk peti, dititip di ruangan F1 di lantai dasar.

menyala. Tempat ini begitu tenang, tidak ada keramaian seperti biasanya.

Mama saya datang jam 7 pagi, dia akan menemani saya sampai siang nanti karena Jc akan ke Atmajaya sebelum jam 8 bersama kakak saya dan ipar sesuai rencana.

Sambil menunggu dokter visit, saya sempatkan membalas beberapa SMS turut berduka cita dari teman-teman senusantara, rupanya berita meninggalnya baby di email ke all user dalam berita duka-cita company, Hp saya sampai full, email saya juga full. Tiba-tiba jadi orang beken. Sedihnya..

Jam 9 pagi, dokter visit. Mama saya menanyakan kapan boleh pulang dalam bahasa mandarin. Kata dokter, sebentar siangan juga boleh pulang. Tapi saya minta diperpanjang sehari lagi untuk istirahat. Dokter mengijinkan.

“Dok, apa boleh minum Pien Zhe Huang?” tanya mama masih dalam bahasa mandarin.

Lalu dokter menjelaskan ke mama saya kalau untuk luka yang terbuka seperti akibatan bacokan, habis dijahit kan pendarahannya sudah stop, boleh makan obat ini. Tapi ini kan di rahim, pendarahannya di dalam, darahnya harus dikeluarin, kalau makan obat ini malah bikin tambah pendarahan. Bahkan rumah sakit di Shanghai sendiri, habis melahirkan tidak dibolehkan lagi pakai obat ini. Saya mengerti sedikit-sedikit apa yang mereka percakapkan.

Mama menanyakan satu obat lagi, bagaimana kalau So Hap.

“O itu boleh, untuk buang angin” kata dokter meyakinkan mama saya. “Minum aja, boleh, nggak apa-apa.”

Dokter menerangkan lagi kalau kemarin kan rahimnya gede, sekarang kecil, kosong, otomatis masih ada angin di dalam. Lalu dokter bilang ke suster, “Sus, nanti resepin Rantin ya, biar perutnya nggak kembung.”

Setelah dokter pergi, mama saya masih terkesima ama dokter.

“Cakep ya, Ma?” tanya saya.

“Handsome, kayak bangsawan kerajaan,” jawab mama senyum-senyum. “ Ada belajar kedokteran di Shanghai lagi.”

Ha? Saya sampai terheran-heran, kapan dokter bilang belajar kedokteran disana, nggak tahu deh.., saya yang tidak dengar bagian ini atau memang saya yang tidak mengerti ketika mereka asyik mengobrol pakai bahasa mandarin tadi.

Jc pulang menjelang makan siang, terjadi sedikit kekacauan di Atmajaya. Kemarin dia pesan agar ada misa keluarga, pihak Atmajaya menyanggupi karena mereka punya kerjasama dengan pastur gereja Stella Maris. Tahunya pagi ini yang datang hanya petugas dari seksi sosial untuk doa keluarga, bukan misa.

Untung kakak saya kenal dengan Rm. John, kebetulan romo tidak keberatan langsung dijemput walaupun dia sudah janji dengan orang lain. Jadinya, serba mendadak, acara mulai agak siang karena kakak saya menjemput romo dulu.

Romo menutup misa dengan memberikan berkat, “Atas nama keluarga, atas nama gereja, yang mencintai engkau, saya menyerahkan kau kembali. Pergilah dalam damai anakku, semuanya sudah selesai buat engkau di dalam dunia ini. Berangkatlah membawa tanda kemenangan yang telah dimateraikan untukmu sejak engkau masih dalam kandungan, biarlah engkau diterima dalam malaikat-malaikat yang kudus, dan engkau akan dijemput oleh kalangan pilihan Allah. Berangkat dan temuilah Allah Bapa yang menciptakan engkau, temui Yesus yang menebus engkau dengan kuasa darah salibNya dan Roh Kudus yang menuntun engkau selama berada di dunia ini. Datanglah dan tinggallah bersama para kudus, untuk selamanya memuliakan Tuhan dalam kerajaan yang abadi. Doakan juga orang tua dan seluruh keluarga agar mereka selamat dan sehat sejahtera di dunia sampai Bapa di surga mengumpulkan kamu semua dan kita sekalian dalam rumah yang abadi di surga. Pergilah dalam damai anakku, demi nama Bapa, Putra dan Roh Kudus. Amin”

Jc menghantar Ancillo sampai ke mobil jenasah, pihak Atmajaya yang akan membawanya ke Nirvana, untuk kremasi kemudian abunya disebar di laut. Untuk baby yang meninggal, biasanya pihak keluarga tidak menemani.

Selamat jalan, Ancillo, malaikat kecilku, malaikat kesayanganku. ..

Saya meminta mama saya untuk mencarikan nama mandarin untuk Ancillo, namun mama saya bilang kalau dia sendiri kaget begitu tahu nama baby adalah Ancillo, kenapa namanya bisa begitu pas, dalam bahasa mandarin artinya ‘Istirahat dalam damai’. An dari phing an, Si dari sui si, Lo dari khuai lo artinya gembira-damai- tenang, An Si artinya istirahat. Kata ini biasa dipakai oleh gereja untuk orang yang meninggal. Sedangkan Budha memakai kata lain chien ku atau sien yu.

Istirahat dalam damai… Ya, nama yang pantas diberikan untuk dirinya. Istirahat dalam damai bersama Yesus di surga…

Kami melewati seharian di rumah sakit berdua, seperti honey moon kedua. Tapi kali ini penuh dengan kesedihan walaupun kami sudah merelakan baby pergi.

Sejak pagi badan saya sakit semua, lebih sakit dari kemarin, seperti orang baru olahraga berat. Seperti baru pulang hiking. Mungkin saya terlalu banyak mengeluarkan tenaga untuk ngedan. Memang enakan memakai epidural, badan tidak sakit-sakit, karena tenaga tidak habis untuk menahan sakit.

Saya belum dapat berdiri lama, lebih banyak duduk atau setengah tiduran. Ajaib, bekas jahitan sudah tidak terasa sakit, biasanya sampai dua minggu baru hilang.

Ketika sore hari, saya jalan-jalan ditemani Jc. Kaki kami selalu berjalan menjauhi ruang baby, menghindarinya, tidak berani melihat baby-baby yang dipajang, pasti semuanya menggemaskan entah yang sedang menangis maupun yang sedang tidur pulas.

Malam hari keluarga Jc datang, mama mertua saya baru diberitahu sore harinya. Jc sengaja menyembunyikannya berbulan-bulan, agar mamanya tidak sedih. Dia juga tidak memberi kabar sejak kemarin, menunda menceritakan, katanya biar semua beres baru dia cerita.

Mama dan kakaknya melihat foto baby, cucu ketujuh bagi keluarganya. Mama hanya bilang kalau di kampung Riau dulu, dua puluh tahun yang lalu juga ada saudara yang lahir tanpa tempurung. Mamanya cukup berduka, dia begitu menyayangi cucu, jauh melebihi mama saya sendiri. Hidupnya sejak muda hanya untuk keluarga menjadi ibu rumah tangga yang penuh cinta.

H + 2

Pagi-pagi kami sudah merapikan kamar dan menaruh semua barang ke mobil. Saya sempat duduk-duduk di lantai dasar lagi, terkenang akan hari-hari Sabtu pagi yang lalu, hari biasa kami konsultasi dengan dokter, kami biasa drop buku pagi hari sebelum jam 6, misa pagi di gereja mulai jam 6, makan pagi di sekitar pluit, baru balik ke sini untuk tensi.

Semua tinggal kenangan, seperti baru saja terbangun dari mimpi yang panjang, mimpi akan kerinduan menggendong seorang bayi mungil. Mimpi itu telah dikubur bersama debur ombak di laut luas, di bawah langit yang terbentang tak berujung.

Kursi-kursi masih kosong, lampu juga masih gelap. Sebentar lagi satu hall ini akan penuh dengan pasien ibu-ibu hamil, dari hamil kecil sampai hamil besar, semua punya harapan yang sama, menantikan kelahiran seorang bayi yang sehat dan sempurna.

Apakah saya masih ada kesempatan, mengulanginya sekali lagi? Entahlah, mungkin saya harus menunggu lama, atau selamanya kesempatan itu tidak pernah datang.

Ayo semangat, saya mengingatkan diri saya sendiri, masih ada dua anak tercinta menunggu di rumah, tunjukkan dirimu yang baru, di kesempatan hidup kedua ini.

Kamar sudah kosong, sehingga nanti sehabis dokter visit, kami bisa langsung angkat kaki untuk pulang. Anak-anak sudah tidak sabar, Vincent bahkan sudah menelpon dari pagi hari mengingatkan Jc untuk mengantarnya ke sekolah untuk pesan seragam baru, seragam SD. Francis juga bilang kalau dia mau ikut ke sekolah. Sebentar saja baby-baby itu sudah besar, serasa baru kemarin saya membawanya pulang dari rumah sakit, sekarang sudah mau masuk SD, tahun depan Francis pun menyusul masuk SD.

Sejak kemarin anak-anak sudah mau datang menjenguk, tapi Jc tidak memperbolehkan, karena kami belum siap untuk mengatakan yang sebenarnya. Mereka hanya diberitahu bahwa adiknya sudah lahir tapi masih belum sehat.

Jam 8 pagi, dokter visit, seperti biasa dengan senyumnya yang hangat, sehangat matahari pagi hari itu. Dokter memeriksa sebentar, semua oke, saya diperbolehkan pulang. Saya diingatkan untuk kontrol minggu depan.

Jam 8.30 semua sudah beres, kami sudah meminta bagian administrasi sejak pagi, jadi bisa secepatnya pulang. Saya duduk di kursi tunggu, tempat biasa keluarga menunggu kelahiran. Tidak sampai lima orang sedang menunggu, tampangnya cemas, menantikan kelahiran. Sama seperti Jc kemarin-kemarin.

Saya melihat dokter muncul dari pintu samping, rupanya dokter sudah selesai visit, lalu dia sempat bicara sebentar dengan seorang keluarga pasien, mendengarkan dengan telaten, salaman lalu bergegas turun lewat tangga samping.

Dari balkon saya melihat, pasiennya sudah banyak menunggu. Thanks ya, Dok, kata saya dalam hati, entah bagaimana saya bisa melewati ini semua tanpa bantuanmu, dokter yang penuh dedikasi.

Ancillo telah begitu banyak meninggalkan kenangan indah bagi saya, dia begitu berarti bagi saya. Saya beruntung bisa menjalaninya semua ini dengan begitu indah.

Sesampai di rumah, anak-anak sudah menyambut dengan begitu gembira, mereka berteriak, rebutan minta cium, tapi mereka tidak berani menanyakan dimana adik babynya. Mereka mengira adiknya masih belum sehat, sehingga masih ditinggal di rumah sakit.

Adik saya membisikkan ke saya, bahwa sebelum mobil saya masuk rumah, Francis berkata kepadanya dengan bangga, “sekarang aku sudah jadi koko lho, aku sudah punya dede baby.” Adik saya hanya bisa mengelus kepalanya sambil tersenyum pahit.

Francis sangat ingin jadi anak tengah, menurutnya lebih hebat dari pada jadi anak bungsu, makanya dia begitu menantikan adik bayinya lahir, sehingga dia boleh disebut anak tengah, bukan lagi si bungsu.

Kami buru-buru mengeluarkan barang-barang dari bagasi. Sudah hampir kesiangan, Jc langsung mengantar Vincent ke sekolah. Semua ikut.

Saya istirahat di rumah. Sepi sekali, tanpa anak-anak. Bayangan baby kembali menghampiri. Saya sangat merindukannya. Biarkan saya menangis sekali lagi, sendirian, selagi anak-anak tidak ada. Biarkan saya mengenangnya sendirian...

Saat tidur siang, kami menceritakan bahwa adik baby nakal di perut sehingga terlilit tali pusar, begitu kencangnya sehingga meninggal.

Vincent langsung menangis, sedih sekali, dia begitu terpukul, dia sudah cukup mengerti akan arti kehilangan, kepergian dan kematian. Dia bilang, pokoknya dia tetap mau punya adik baby, ayo kita doa, minta ama Tuhan, tahun depan kirim lagi seorang baby.

Francis bilang, nanti kalau Tuhan kirim adik baby lagi, setiap hari dia akan bilang baby supaya tidak nakal di perut mama, supaya tidak kelilit lagi.

Kami memperlihatkan foto adiknya yang sedang tertidur di peti mati. Sosoknya begitu mungil, hanya terlihat wajahnya, dibalut selimut putih dari leher hingga kaki, bahkan dikelilingi kain putih di peti matinya.

Kami menyembunyikan foto di kamera, dimana kepalanya terlihat tidak utuh. Suatu hari nanti, kami akan memperlihatkannya.

Suster Vincent memberitahukan bahwa kemarin subuh sekitar jam 2-3 subuh, Vincent sempat terbangun dan memanggilnya. Begitu suster datang menghampirinya, Vincent sedang duduk di ranjangnya, dia menunjuk di sudut kamar, tempat Vincent menyimpan mainannya, itu siapa sus, katanya, sambil mengucek matanya, itu dede baby ya. Sus.., dede sudah pulang, tuh disana.

Suster melihat tidak ada siapa-siapa disana. Lalu menemani Vincent bobo lagi.

Jumat subuh, pikir saya, Jumat siangnya baru dipersembahkan misa untuk baby. Mungkinkah Ancillo memang pulang ke rumah untuk pamit kepada kakak-kakaknya yang begitu merindukannya, begitu mencintainya.

Beberapa hari saya masih sering menangis saat malam hari dan pagi hari di saat rumah kosong dimana anak-anak berangkat sekolah.

Kemudian saya mulai menulis cerita ini, sebelum memory saya menghapusnya seiring waktu. Kenangan akan baby begitu indah, saya tak ingin melupakannya. Dia begitu berarti bagi saya.

H+10.

Jam 5 pagi saya sudah bangun, hari ini jadwal kontrol. Kami berangkat jam 5.30, lebih pagi lagi dari biasanya. Saya menaruh buku seperti biasa. Lalu buru-buru ke gereja Stella Maris sebelum jam 6, saya harus menyerahkan amplop berisikan tiga intensi misa hari ini, pertama-tama berterima kasih atas keselamatan saya, kedua untuk sepuluh hari meninggalnya Ancillo dan terakhir untuk baby yang diaborsi karena cacat. Tapi Romo Yos hanya menyebutkan dua intensi yang pertama. Romo mungkin bingung, untuk baby yang diaborsi, jumlahnya begitu banyak di dunia ini.

Sehabis misa, saya mampir membeli bermacam-macam roti untuk para suster di kamar bersalin. Harus pagi ini juga, pas pergantian shift, saat itu susternya paling ramai. Saya sangat ingin berterima kasih kepada semua suster, atas kesabaran mereka merawat saya selama dua hari.

Kemudian saya antri dokter seperti biasa, tensi dan timbang. Berat badan turun drastis, sembilan kilo, sampai suster menggeleng-gelengka n kepala, menanyakan resep cepat balik. Saya juga tidak tahu kenapa, dari dulu selalu turun sepuluh kilo begitu pulang dari rumah sakit.

Dokter datang lebih pagi hari ini, jadwalnya sedikit berantakan hari ini, operasi caesar yang biasanya pagi, banyak bergeser jadi siang hari. Hari ini penuh sekali, lebih penuh dari Sabtu biasanya.

Dokter memeriksa rahim saya lewat USG, bagus, jahitan bagus. Saya hanya mengeluh bagian kiri perut saya sedikit sakit. Kata dokter, memang biasanya masih sedikit sakit, karena rahim juga masih besar. Dia menyarankan untuk meneruskan minum obat anti sakit, tapi saya mengatakan kalau sejak pulang rumah sakit saya tidak minum lagi, selama saya masih bisa tahan.

“Dok, rahim saya turun nggak?” tanya saya

“Lu ke tukang urut, ya?” tembaknya.

Saya hanya bisa senyum malu, ketahuan. “Perutnya nggak diurut kok.”

“Jangan diurut ya, makin lu urut makin sakit. Pas diurutnya sih enak, tapi udahannya, lu lebih sakit.”

“Emang kalau rahimnya turun, diapain, Dok?” tanya saya.

“Ya nggak diapa-apain. Lu nggak angkat berat, kan?” tanyanya.

“Nggak.”

“Ya udah, asal lu nggak angkat berat, nggak usah takut rahimnya turun,” jawabannya menenangkan saya.

Dokter masih saja tersenyum, tiba-tiba dia geli sendiri. “Kalau rahim diurut bisa naik, apa bedanya dengan payudara?” tanyanya sambil memegang dadanya membentuk dua mangkok. “Apa payudara yang udah turun kalau diurut bisa naik lagi? Kan sama-sama otot.” Tampangnya nakal sekali.

“Kalau bisa, boleh juga tuh,” katanya sambil menahan ketawa, “sekalian pasang plang besar, ‘Payudara Kendor, Diurut Bisa Kencang Lagi’. Akhirnya meledak juga tawanya. “Wah bisa rame deh tukang urutnya.”

Kami ikut tertawa, kocak banget si Dokter.

“Eh Dok, emang tidurnya musti setengah duduk ya, biar darahnya keluar lancar?” tanya saya lagi.

Dokter berusaha pasang tampang serius, tapi tidak berhasil. “Kata siapa? Wah, lu pegel-pegel dong.” katanya kembali menahan ketawa.

“Kata mbak Jawa,” jawab saya. Sepertinya salah nanya lagi deh, kata saya dalam hati. Emang lumayan pegel, sudah beberapa hari saya tidurnya setengah duduk, mengikuti nasehat bidan tukang urut.

“Ini, ada mbak Jawa,” katanya sambil mengerling ke arah suster kesayangannya, suster tinggi berkacamata, “Sus, emang orang Jawa gitu ya?”

“Ya nggaklah, orang Jawa abis melahirkan juga biasa aja tidurnya,” jawab suster sambil senyum-senyum.

“Tuh, tidurnya biasa aja, ya,” ujarnya menasehati sambil senyum-seyum. “Biar lu istirahatnya juga enak. Lu aktifitas juga seperti biasa aja, biar darah keluarnya lancar. Asal jangan angkat berat-berat.”

Lalu dokter menanyakan sisa obat yang dibawa pulang dari rumah sakit.

“ASI lu dulu banyak nggak?” tanyanya.

“Dikit.”

“Gua resepin Parlodel aja ya, buat stop lu punya ASI,” nadanya baru serius. “Walaupun keliatannya ASI lu udah stop, lu tetap musti lanjutin minum, nanti dia bisa produksi ASI lagi. Lebih bagus lagi kalau dada lu dibebat.”

“Kapan boleh ngantor, Dok?” tanya saya.

“Dapat cuti tiga bulan kan dari kantor?” tanyanya balik.

“Cutinya sebulan aja, boleh?” tawar saya.

“Ngapain lu buru-buru ngantor? Nyantai aja lagi di rumah, istirahat dulu, ngapain kek.”

“Banyak kerjaan, Dok. Sebulan aja ya?” ulang saya.

“Nggak boleh,” jawabnya cepat. “Bulan depan lu balik, kontrol ama gua sekali lagi, baru gua bolehin. Tunggu 40 hari dulu deh baru ngantor.”

“Iya deh,” kata saya mengalah.

“Lu kontrol sebulan dari sekarang ya, terserah lu kapan,” pesannya. Lalu dokter mengulurkan tangannya memberikan salam sambil tersenyum manis, senyum khasnya.

“Oke deh,” jawab saya ringan

1 komentar:

  1. Ceritanya menyentuh sekali sampai nangis bacanya, yg sabar yah mbak. Rencana Tuhan pasti Indah :)

    BalasHapus